Awalnya untuk Epilepsi, Kini Diet Ketogenik Populer untuk Menurunkan Berat Badan

Diet ketogenik mulai menjadi diet yang terkenal untuk menurunkan berat badan dengan cepat dan sehat. Banyak yang mengikutinya di Indonesia, banyak yang menentang, namun lebih banyak yang belum tahu diet yang satu ini.

Apa yang dimaksud dengan diet ketogenik?

Istilah ketogenik berarti menghasilkan keton dalam tubuh (ditilik dari akar katanya: keto = keton, genik = menghasilkan). Keton dibentuk saat tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi. Biasanya tubuh menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi, namun karena diet ketogenik sangat rendah kandungan karbohidratnya, maka lemaklah yang menjadi bahan bakar utama tubuh. Keton adalah molekul tidak berbahaya, normal ada dalam tubuh manusia, dan dapat dideteksi melalui pemeriksaan urin, darah, dan nafas.

Baca juga artikel menarik berikut ini:

[catlist name=”diet-yv”]

Siapa yang dapat mengambil manfaat dari diet ketogenik?

Secara ilmiah, dokter biasanya merekomendasikan diet ketogenik pada anak-anak yang serangan kejang epilepsinya tidak berespon terhadap berbagai obat-obatan anti kejang. Secara khusus sangat direkomendasikan untuk anak-anak dengan sindrom Lennox-Gastaut. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa diet ketogenik juga bermanfaat untuk beberapa kondisi epilepsi, antara lain: spasme infantil, sindrom Rett, sklerosis tuberous kompleks, sindrom Dravet, sindrom Doose, dan defisiensi GLUT-1. Diet ketogenik juga bermanfaat untuk anak-anak dengan kejang fokal, namun memerlukan penggunaan rutin jangka panjang sebelum benar-benar bebas kejang.

Diet ketogenik dikenal oleh kalangan dokter sebagai terapi untuk penderita epilepsi karena memang awalnya secara ilmiah digunakan untuk tujuan tersebut. Selain itu data penelitian pada pasien epilepsilah yang jumlahnya banyak dengan tingkat keterpercayaan tinggi. Karena banyak dokter yang kini menganut evidence-based medicine, maka dokter tersebut hanya mengakui diet ketogenik sebagai diet yang tepat bagi penderita kejang epilepsi. Efek diet ketogenik untuk menurunkan berat badan masih dipandang sebelah mata oleh para dokter penganut evidence-based medicine.

Bagaimana memulai diet ketogenik?

Biasanya dimulai dengan puasa dari jam 6 malam hingga jam 6 pagi (12 jam). Lalu mulai makan dengan makanan yang sesuai untuk diet ketogenik. Tujuan dipuasakan di awal mengikuti pola makan ketogenik adalah agar kondisi ketosis lebih cepat tercapai. Pada beberapa hari pertama bahkan hingga satu bulan pertama atau lebih, orang yang menjalani diet ketogenik dapat mengalami rasa tidak enak badan dan lemas. Pastikan untuk tidak mengonsumsi minuman berkarbohidrat (antara lain minuman manis) selama menjalani diet ketogenik meskipun tubuh terasa kurang berenergi.

Skip salah satu atau beberapa jam makan itu sehat bagi ketone-fueled people.
 Asalkan tidak memaksakan diri, ketika lapar ya makan saja. Seiring waktu tubuh kita akan lebih jarang lapar. Inilah konsep puasa dalam diet ketogenik a la Yoseph Vera (Diet YV). Ketika makan ya makan, ketika tidak makan ya dihitung sebagai puasa. Silahkan juga mempertimbangkan untuk melaksanakan puasa secara agama, karena yang penting adalah ketika puasa ya tidak makan dan ngemil.

Iklan harus sarapan sebelum jam sekian yang intinya melarang skip sarapan dan mengarahkan untuk sarapan (iklan tersebut menawarkan minuman tinggi karbohidrat yang “lengkap zat gizinya”) adalah iklan yang keliru. Ketika bangun tidur hampir semua manusia masuk ke kondisi ketosis, yaitu kadar keton dalam darahnya cukup tinggi untuk dapat digunakan sebagai bahan bakar di otak maupun bagian tubuh yang lain. Dan ketika sarapan karbohidrat tinggi, buyarlah ketosisnya karena gula darah naik.
 Kalaupun kita masih terbiasa sarapan dan merasa perlu sarapan (terutama yang ingin menaikkan berat badan) ya makan saja daging atau ikan atau telur.

Apakah diet ketogenik bakal meningkatkan pengeluaran?

Banyak yang bertanya (terutama ibu-ibu dan anak kos, hehehehe) bukannya pola makan karnivora lebih mahal dibandingkan dengan pola makan omnivora? Sebenarnya relatif mengenai mahal tidaknya, tergantung pembandingnya. Secara umum, harga daging memang lebih mahal dibandingkan dengan harga sayuran atau buah. Ada beberapa sayuran atau buah yang harga per kilonya sama atau bahkan lebih mahal daripada daging sapi. Apalagi jika kita bandingkan biaya yang dikeluarkan untuk membeli sayuran organik dengan biaya untuk beli daging ayam, malah ayam berasa murah per gramnya.
 Yang jelas untuk mencapai jumlah kalori yang sama, justru porsinya bakal lebih kecil jika komposisinya  daging berlemak, dibandingkan jika komposisinya berupa nasi + sayur + lauk nabati + krupuk.

Untuk mencapai manfaat dari pola makan omnivora perlu mempertimbangkan faktor ukuran makanannya. Apalagi jika alasan untuk makan sayur dan buah adalah kandungan vitamin dan mineralnya, maka ukuran akan sangat berpengaruh. Butuh sayur atau buah dalam jumlah besar agar dapat memenuhi kebutuhan harian kita. Itupun kualitas vitamin dan mineralnya berbeda dengan vitamin dan mineral yang terkandung dalam pangan hewani. Vitamin dan mineral dalam pangan hewani lebih mudah diserap dan digunakan oleh tubuh manusia dibandingkan dengan pangan nabati.

Jangan lupakan pula bahwa daging berlemak adalah makanan yang padat energi. Sepiring daging berlemak kalorinya jauh lebih tinggi dibanding dengan sepiring lalapan. Jangan heran kalau menemukan penganut pola makan karnivora yang tidak perlu makan 3 kali sehari.

Makan 3 kali sehari adalah mitos yang kurang tepat dengan kondisi tubuh kita. Makan ketika lapar, hingga kenyang. Jangan ngemil. Kalau lapar ya makan lagi. Kalau tidak lapar, ya tidak usah makan meskipun sudah “jam makan”. Ketika kondisi ingin ngemil itu kemungkinannya hanya dua: kebiasaan ngemil dan sebenarnya masih kurang makan (terutama kurang asupan proteinnya), solusinya ya makan beneran saja, jangan ngemil.

Jadi, apakah diet ketogenik itu mahal? Dengan mempertimbangkan bahwa tidak harus makan tiga kali sehari, banyak jam puasanya, tidak ngemil, dan pilihan makanannya padat energi meski porsinya kecil, maka jawabannya adalah diet ketogenik itu lebih mahal dibandingkan dengan diet biasa.

Bagi beberapa orang, diet ketogenik malah bisa membuat pengikutnya lebih hemat. Ketika menjalani diet ketogenik biasanya pengikutnya malah rajin masak sendiri. Ke mall pun tidak untuk makan, karena masih kenyang, atau pilihan makanannya kadang sudah tidak cocok lagi (kecuali bagi yang masih mudah tergoda). Tawaran paket di gerai ayam goreng cepat saji memang murah meriah bila dibandingkan dengan hanya membeli ayam dua atau tiga potong. Silahkan memilih dengan bijak, kalau masih mudah tergoda lebih baik tidak usah ke mall. Hasilnya malah lebih hemat lagi. Salam sehat dari saya.

Sumber: Schachter SC, Kossoff E, Sirven J. Ketogenic Diet. Available at http://www.epilepsy.com/learn/treating-seizures-and-epilepsy/dietary-therapies/ketogenic-diet (Epilepsy Foundation). Last reviewed: March 2014.

===

Tulisan ini telah terbit sebelumnya di seword.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *