Diet Ketogenik Mungkin Cocok Juga Buat Anda

Lucu juga mengenang pola makan saya yang berubah-ubah. Dulu (sekitar 3 tahun yang lalu) saya bangga bisa ikut program yang sempat heboh yaitu “one day no rice”. Saya dan istri melakukannya sesekali, seharian memang tidak makan nasi, tapi tetap makan karbohidrat lainnya. Memang program “one day no rice” digaungkan untuk menganekaragamkan pangan rakyat Indonesia yang sudah terlanjur jadi pemakan nasi. Memang sebagian rakyat Indonesia hanya bisa makan nasi, sehingga terbukti ketika sering dijumpai istilah dalam berbagai bahasa daerah yang intinya kalau belum makan nasi ya sama saja dengan belum makan. Singkong goreng atau bakwan jagung sepiring belum dihitung sebagai sarapan, hanya dianggap makanan pembuka. Ketergantungan Indonesia terhadap nasi akhirnya membuat negara kita tergantung pada beras. Syukurlah kita masih mudah memperoleh beras. Jika beras langka bisa berbahaya, makanya memberi beras adalah salah satu metode membeli suara menjelang pemungutan suara mulai dari tingkat desa hingga pilpres.

Sekarang kondisi saya sudah jauh berbeda. Saya sanggup berhari-hari (pernah lebih dari 8 hari) menjalani program “everyday no carbohydrates” yang lebih dikenal sebagai diet ketogenik. Makanan utama saya bukan nasi, bukan pula sumber karbohidrat lainnya seperti mie, ubi, singkong, kentang, roti, atau havermout. Sekarang saya meminimalisir karbohidrat yang masuk ke tubuh saya. Setelah mendapat banyak laporan bahwa saya tampak makin kurus, sesekali saya makan nasi atau karbohidrat lainnya, karena tujuan saya menjalani diet ketogenik adalah demi kesehatan jangka panjang bukannya untuk menurunkan berat badan. Sayuran dan buah-buahan sudah lama saya tinggalkan, kalaupun ada yang dengan sengaja saya makan adalah bagian dari bumbu saja.

Baca juga:

[catlist name=”diet-yv”]

Pola makan saya ini saya kembangkan bersama dengan istri, dasarnya adalah diet ketogenik. Saya mengenal diet ketogenik dari dua grup Facebook, dengan protokolnya yang memiliki beberapa perbedaan. Perubahan kami lakukan di beberapa hal supaya diet ketogenik dapat diikuti oleh nyaris semua orang. Intinya, kita harus banyak baca agar tidak mudah percaya apa kata orang, termasuk apa kata saya dalam tulisan ini. Pelajari dan terapkan yang baik untuk diri kita masing-masing.

Hal yang mendasar yang disepakati kedua grup tersebut adalah jika kita ingin makan makanan yang bersifat ketogenik, sumber utamanya ya paling baik dari binatang alias bahan pangan hewani. Biarlah bahan pangan nabati jadi makanan hewan dan bumbu saja. Pangan hewani lebih komplit kandungan gizi esensialnya dan sedikit kandungan karbohidratnya. Pangan esensial manusia hanya protein, lemak, vitamin, dan mineral. Karbohidrat bukan sesuatu yang esensial, karena bisa dibuat sendiri dari lemak dan protein.

Memang tidak semua orang sanggup untuk makan bahan pangan hewani saja terus menerus. Kendala utamanya adalah ekonomi keluarga. Biaya yang dibutuhkan untuk menjalani diet ketogenik lebih mahal dibandingkan dengan pola makan murah meriah ala Indonesia. Untuk itulah kami juga memakan pangan nabati yang tinggi kandungan protein dan lemaknya (misalnya tahu, tempe, santan). Sehingga jika ada yang ingin merubah pola makan tetapi hanya sanggup menyediakan tahu dan tempe ya tetap bisa menjalani diet ketogenik. Di masa-masa awal saya menjalani pola makan ketogenik saya juga minum minyak nabati terutama virgin coconut oil (VCO) dan extra virgin olive oil (EVOO). Sekarang saya sudah nyaris tidak pernah minum VCO maupun EVOO. Kopi sangat jarang, dan sesekali masih minum teh hijau tanpa gula, terutama kalau memang sedang ingin menunda lapar. Makanan-makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan tidak ada yang mutlak. Berikan yang terbaik untuk tubuh kita. Bertanggungjawablah atas pilihan-pilihan yang kita ambil.

meatball with sauce

Dalam mengikuti beberapa protokol, saya merasakan berbagai hal. Mulai kelaparan yang disertai merasa lemas sekali, hingga merasa memiliki banyak energi meskipun sudah lama tidak makan. Godaan dari keluarga dan rekan bakal menguji niat kita untuk merubah pola makan. Keluhan mudah mengantuk, merasa kekurangan energi, lapar, mulut pahit, agak kurang konsentrasi, dan aneka gejala lain dapat menjadi alasan orang-orang untuk meminta kita menghentikan pola makan ketogenik ini. Gejala paling ekstrim yang saya alami dalam satu hari adalah badan rasanya pegal, kadang leher bagian belakang terasa berat dan kaku, sendi besar (siku dan lutut) dan sekitarnya terasa seperti tumbuh cabang baru, buang air besar nyaris 90 persen cair dan sedikit berbusa tapi tidak mules, mengantuk hebat, sulit konsentrasi, tangan gemetar kalau pegang sesuatu, dan badan terasa gerah. Memang diet ketogenik tidak untuk semua orang. Jangan memaksa diri mengikuti diet ketogenik jika memang membahayakan kesehatan anda.

Tetap semangat untuk menemukan pola makan ideal anda. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih sehat. Salam sehat dari saya.

===

Tulisan ini telah terbit sebelumnya di seword.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *