Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dan Fungsi Kognitif pada Penduduk Tiongkok Berusia 90 Tahun atau Lebih

Pendahuluan

Penelitian epidemiologi terbaru menghubungkan antara adipositas di usia pertengahan dengan peningkatan risiko demensia di usia lanjut, terutama demensia tipe penyakit Alzheimer. Hubungannya sebagai berikut: (1) atrofi lobus temporal dan prevalensi demensia yang lebih tinggi pada wanita lanjut usia berhubungan dengan indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi secara konsisten selama masa dewasa; (2) atrofi otak berhubungan dengan IMT yang lebih tinggi pada usia 50-an; dan (3) volume hipokampal yang lebih kecil pada lansia berhubungan dengan rasio lingkar pinggang/lingkar panggul. Beberapa penelitian epidemiologis lainnya menemukan bahwa peningkatan IMT pada usia pertengahan sebagai faktor risiko untuk diagnosis demensia beberapa dekade kemudian, terutama pada wanita. Penelitian-penelitian ini secara umum sudah mempertimbangkan kondisi penyerta seperti hipertensi, diabetes melitus, dan lain-lain, menegaskan bahwa lemak tubuh memiliki efek merusak terhadap integritas dan fungsi otak. Adipositas memiliki relevansi fungsional karena penelitian menemukan fungsi belajar, daya ingat dan eksekusi yang lebih buruk pada lansia obesitas dibandingkan yang tidak obesitas. Sebagai tambahan, di sebuah penelitian pada dewasa muda, menemukan hubungan antara kondisi overweight atau obesitas dengan gangguan fungsi eksekutif. Di sisi lain, penurunan berat badan lazim dijumpai pada lansia penderita demensia, terutama pada penderita penyakit Alzheimer.

Sudah diketahui dengan baik bahwa penuaan berkaitan dengan perubahan komposisi tubuh, termasuk peningkatan massa lemak dan penurunan massa otot. Lemak abdominal, terutama akibat akumulasi lemak viseral, lebih meningkat secara proporsional seiring bertambahnya usia dibandingkan lemak perifer. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kelebihan lemak viseral abdominal berkorelasi dengan peningkatan risiko hipertensi, dislipidemia dan hiperglikemia. Pengukuran IMT pada lansia mungkin tidak cukup tepat menggambarkan akumulasi lemak abdominal karena adanya penurunan massa otot.

Peningkatan IMT pada usia pertengahan sebagai faktor risiko demensia dalam beberapa dekade berikutnya, demensia sebagai faktor risiko penurunan berat badan pada lansia, hubungan antara penuaan dengan penurunan kognitif, dan hubungan antara penuaan dan perubahan komposisi tubuh telah dikonfirmasi melalui berbagai penelitian. Kita bisa menyimpulkan bahwa pada subjek yang berusia 90 tahun atau lebih, terdapat hubungan erat antara IMT dan fungsi kognitif, yang mungkin berbeda dengan lansia secara umum (berusia 60 tahun atau lebih).

 

Subjek dan Metode

Subjek Penelitian

Berdasarkan sensus pada tahun 2005 di Dujiangyan (Provinsi Sichuan, Tiongkok barat daya), penelitian potong-lintang untuk penyakit terkait usia dilakukan pada 870 subjek berumur sangat tua (>90 tahun), sebagai bagian dari Project of Longevity and Aging in Dujiangyan (PLAD). Hasil pengumpulan data diisikan dalam formulir standar, kuesioner gaya hidup dan fungsi kognitif [diukur menggunakan 30-item Mini-Mental State Examination (MMSE)]. Kami mengeksklusikan mereka yang tidak menyelesaikan tes MMSE atau yang tidak memiliki data IMT.

 

Pengumpulan Data dan Pengukuran

Penilaian Fungsi Kognitif

Fungsi kognitif diukur menggunakan 30-item MMSE, yang merupakan sebuah tes global dengan komponen orientasi, atensi, kalkulasi, bahasa dan kemampuan mengingat. Untuk menurunkan kesalahan metodologis dan menjamin reliabilitas metodologis, administrator mendapatkan pelatihan profesional yang meliputi: (1) meninjau prosedur MMSE dan sistem penilaian yang disampaikan secara garis besar melalui boklet singkat dan video, (2) memantau seorang ahli geriatri melakukan MMSE pada penduduk yang bukan subjek penelitian ini, (3) mendapatkan supervisi ketika melakukan MMSE pada penduduk yang bukan subjek penelitian ini. MMSE dilakukan pada individu yang memberikan persetujuan berpartisipasi dalam penelitian ini. Individu dikategorikan sebagai berikut: demensia possible (nilai 0-18), gangguan kognitif ringan (nilai 19-24), dan normal (nilai 25-30).

Karena MMSE menekankan pada kemampuan visual dan auditori, 28 pria dan 72 wanita tidak menyelesaikan tes MMSE akibat gangguan penglihatan atau pendengaran. Untuk mengatasinya, subjek tersebut dieksklusikan dari analisis.

 

Pengukuran IMT

Tinggi badan dan berat badan diukur mengacu pada prosedur baku. Kami menggolongkan IMT berdasarkan ambang batas untuk Asia sesuai saran WHO menjadi 4 kategori: kurang (<18,5), normal (18,5–23,0), overweight (23,0–27,5) dan obesitas (>27,5). Kami juga membagi berdasarkan kuartil. Kami mengeksklusikan individu yang tidak bisa berdiri.

 

Penilaian Kovariat

Penilaian dasar mencakup informasi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, konsumsi teh, olahraga, kadar asam urat serum dan IMT. Tekanan darah diukur di lengan kanan sebanyak 2 kali oleh dokter atau perawat terlatih. Kadar lemak/lipoprotein (mencakup trigliserida, kolesterol total, HDL dan LDL), gula darah puasa dan asam urat serum diukur menggunakan teknik laboratorium standar. Kovariat lain dikumpulkan menggunakan kuesioner.

 

Analisis Statistik

Seluruh analisis statistik dilakukan dengan SPSS for versi 11.5 (SPSS Inc., Chicago, Ill., USA). Analisis yang digunakan: 1-way ANOVA, Pearson’s Chi2 atau Fisher’s exact test, Student’s t test, regresi logistik multipel.

 

Hasil

Dari 638 partisipan, usia rata-rata 93,36 tahun, 64 berusia 100 tahun atau lebih, dan 427 berjenis kelamin perempuan. Sembilan puluh persen partisipan tinggal di pedesaan. Nilai rata-rata MMSE 15,57, hanya 35 subjek yang nilainya lebih dari 24. Pada sampel oldest-old, prevalensi demensia possible 54,6%, prevalensi pada pria 39% dan pada wanita 67,4%. Pada sampel tersebut, prevalensi demensia possible berhubungan dengan tingkat pendidikan.

Pada sampel oldest-old, rata-rata IMT adalah 19,05. Ketika dikategorikan menggunakan cutoff point standar WHO maupun menggunakan kuartil tidak ditemukan perbedaan bermakna pada faktor gaya hidup di antara subgrup.

Nilai MMSE dan risiko demensia tidak berbeda bermakna ketika IMT dikategorikan menggunakan cutoff point standar WHO, namun ada perbedaan ketika IMT dikategorikan berdasarkan kuartil.

 

Pembahasan

IMT yang dikategorikan menurut kuartil menunjukkan bahwa kelompok ketiga (IMT 18,9-21,1) memiliki risiko demensia yang lebih kecil dan nilai MMSE yang lebih tinggi. Penuaan terkait dengan perubahan komposisi tubuh (termasuk penurunan IMT), dan hasil ini konsisten dengan penelitian lain. Pada penduduk Tiongkok yang berusia sangat tua, IMT sekitar 20 (18,9-21,1) adalah yang paling tepat untuk pencegahan demensia.

Berbeda dengan hampir seluruh penelitian sebelumnya, standar yang digunakan dalam penelitian ini adalah MMSE, bukan diagnosis secara klinis, karena alasan kepraktisan. MMSE hanyalah alat skrining demensia, yang secara luas juga dipakai untuk mengukur fungsi kognitif. Nilai MMSE tidak selalu merefleksikan fungsi kognitif sesungguhnya karena kadang dapat dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan subjek. Pada penelitian ini, individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki risiko demensia yang lebih rendah. Hal ini konsisten dengan penelitian sebelumnya. Setelah menyesuaikan untuk usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan, IMT sekitar 20 masih memiliki risiko demensia yang lebih rendah dibanding kelompok lain. Hal ini menegaskan bahwa IMT sekitar 20 adalah faktor determinan penting untuk fungsi kognitif pada lansia. Temuan ini memiliki implikasi praktis berupa intervensi sebagai pencegahan demensia, yaitu lansia harus diupayakan memiliki IMT 20.

Hubungan IMT tinggi dengan fungsi kognitif dapat ditelusuri melalui hal-hal berikut: IMT tinggi pada penduduk sangat tua terkait dengan peningkatan IMT pada usia pertengahan, yang dianggap sebagai faktor risiko diagnosis demensia beberapa dekade kemudian; dan bersama-sama dengan obesitas, hipertensi, dislipidemia, hiperurisemia dan diabetes dianggap sebagai komponen sindrom metabolik. Sindrom metabolik telah dikonfirmasi sebagai faktor risiko untuk demensia. Pada penelitian ini, subjek dengan IMT tinggi memiliki tekanan darah tinggi, kadar TG dan asam urat tinggi, dan kadar HDL rendah, dan mereka yang demensia possible memiliki kadar kolesterol total yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Gaya hidup seperti kebiasaan merokok, minum alkohol, minum teh, dan olahraga memiliki kaitan dengan IMT dan fungsi kognitif.

Hubungan antara IMT rendah dengan fungsi kognitif juga dapat dikaitkan dengan penurunan berat badan pada subjek dengan demensia, dan perubahan komposisi tubuh (yang hasilnya menurunkan IMT) dan demensia keduanya terkait dengan penuaan.

Sebagai kesimpulan, memperhatikan umur panjang pada penduduk Tiongkok, terdapat hubungan antara IMT dan fungsi kognitif. IMT sekitar 20 (18,9-21,1) terkait dengan risiko paling rendah terjadinya demensia dan hasil fungsi kognitif yang paling tinggi.

 

 

Judul asli: Association between Body Mass Index and Cognitive Function among Chinese Nonagenarians/Centenarians

Jurnal: Dement Geriatr Cogn Disord 2010;30:517–524 DOI: 10.1159/000322110

Penulis: Yan Zhou, Joseph H. Flaherty, Chang-Quan Huang, Zhen-Chan Lu, Bi-Rong Dong

Afiliasi penulis: Department of Geriatrics, West China Hospital, Sichuan University, Chengdu , China; Department of Internal Medicine and Division of Geriatrics, St. Louis University School of Medicine, St. Louis, Mo., USA

Kontak penulis: Bi-Rong Dong. Department of Geriatrics, West China Hospital, Sichuan University. Guoxuexiang 37. Chengdu, Sichuang 610041 (China) Tel. +86 189 8060 1332 E-Mail hxzhouyan@hotmail.com

 

[catlist name=”diet-yv”]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *