Hubungan Status Berat Badan dengan Gangguan Kognitif pada Populasi Usia Lanjut di Shanghai

Diterjemahkan oleh Yoseph Samodra

-=-

Pendahuluan

Prevalensi demensia dan beban yang ditimbulkannya pada keluarga makin meningkat. Gangguan kognitif adalah bagian penting dari kriteria diagnostic demensia, dan dapat menunjukkan permulaan demensia. Pencegahan gangguan kognitif melalui identifikasi dan penanganan faktor risiko adalah hal penting dalam kesehatan komunitas karena meningkatnya jumlah penduduk yang berusia lanjut. Prevalensi gangguan kognitif sebesar 7,05% di orang Tiongkok berusia lanjut yang tinggal di daerah pedesaan Shanghai. Meskipun penatalaksanaan demensia sudah banyak mengalami kemajuan, keberhasilan penanganan yang ada saat ini untuk gangguan kognitif dan demensia masih rendah.

Status berat badan, indeks massa tubuh (IMT), lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang-panggul, adalah faktor-faktor risiko penting untuk penyakit kardiovaskular. Masih belum jelas apakah status berat badan menjadi predisposisi pasien untuk kejadian demensia dan gangguan kognitif secara independen dari faktor risiko lainnya. Penelitian potong lintang telah menunjukkan bahwa lansia yang mengalami demensia memiliki IMT yang lebih rendah dibandingkan yang tidak mengalami demensia. Namun, hasil dari penelitian longitudinal lainnya yang mengaitkan IMT lansia terhadap fungsi kognitif masih bertentangan. Sebagai contoh, ada penelitian yang melaporkan bahwa peningkatan IMT berkaitan dengan gangguan kognitif, tapi penelitian lain menemukan asosiasi berbentuk huruf U antara IMT dan gangguan kognitif. Penelitian lain menyampaikan bahwa IMT tinggi adalah faktor protektif untuk fungsi kognitif, tetapi lingkar pinggang yang tinggi adalah faktor risiko untuk gangguan kognitif. Perlu diperhatikan bahwa pada saat penelitian ini berlangsung, cut-off point untuk IMT dan lingkar pinggang di Tiongkok berbeda dari kriteria standar internasional, yaitu cut-off point IMT dan lingkar pinggang yang lebih rendah untuk mengklasifikasikan orang Asia menjadi kelebihan berat badan (overweight) atau obese. Dalam tulisan ini, kami menganalisa hubungan antara obesitas dan risiko gangguan kognitif pada responden yang berusia 60 tahun ke atas dari daerah pinggiran kota Shanghai.

senyum nenek

Bahan dan Metode

Subyek

Data berasal dari penelitian kohort berbasis populasi yang dilakukan pada tahun 2005 yang bertujuan mencari mekanisme umum demensia dan diabetes. Subyek adalah penduduk daerah pinggiran kota Shanghai yang berusia 60 tahun ke atas. Pengumpulan data dengan wawancara tatap muka dilakukan oleh asisten peneliti yang telah dilatih secara spesifik dengan bantuan kuesioner, selain itu dilakukan juga beberapa pemeriksaan fisik dan neurologis. Kuesioner mencakup item mengenai informasi demografis, riwayat medis umum, riwayat kesehatan keluarga, dan faktor yang dikenal memiliki kaitan dengan gangguan kognitif seperti merokok, minum lakohol, minum teh, riwayat cedera kepala atau penyakit pembuluh darah, riwayat keluarga untuk penyakit Alzheimer, paparan alumunium, dan pendapatan keluarga. Informed consent dimintakan pada masing-masing subyek, dan bagi subyek yang buta huruf atau menderita demensia parah, persetujuannya ditandatangani oleh pendamping sahnya. Total subyek penelitian ini adalah 2809 orang.

 

Baca juga:

[catlist name=”kesehatan”]

 

Pengukuran

Versi bahasa Tiongkok dari Mini-Mental State Examination (C-MMSE) digunakan untuk menapis subyek dengan gangguan kognitif. Partisipan disebut memiliki gangguan kognitif jika mereka mendapatkan nilai di bawah cut-off berikut ini sesuai tingkat pendidikannya: 17/18 untuk mereka yang tidak memiliki pendidikan formal, 20/21 untuk mereka yang mengenyam 1-6 tahun pendidikan (sekolah dasar) dan 24/25 untuk partisipan dengan riwayat pendidikan formal lebih dari 6 tahun (sekolah menengah atau lebih tinggi). Sensitivitas dan spesifisitas dari nilai cut-off CMMSE adalah 85,2% dan 92,7% pada sebuah penelitian tentang demensia di Shanghai.

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik (TDS) rata-rata 140 mmHg atau lebih tinggi dan/atau tekanan darah diastolik (TDD) rata-rata 90 mmHg atau lebih tinggi. Selain itu, subyek yang rutin mengonsumsi obat antihipertensi dianggap menderita hipertensi.

Indeks massa tubuh dihitung dengan membagi berat badan dalam satuan kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter.

Berat badan diukur hingga 0,1 kilogram terdekat saat subyek berdiri dan tidak mengenakan alas kaki di atas timbangan, dan tinggi badan diukur hingga 0,5 sentimeter terdekat. Lingkar pinggang diukur setinggi krista iliaka saat inspirasi minimal hingga 0,1 sentimeter terdekat dalam posisi subyek berdiri dengan berat tubuh didistribusikan merata dengan kedua telapak kaki terpisah sejauh 25-30 sentimeter. Untuk lingkar panggul, pengukuran dilakukan sekeliling pelvis di daerah dengan penonjolan pantat maksimal dengan ketelitian hingga 0,1 sentimeter terdekat. Masing-masing pengukuran ini dilakukan oleh setidaknya dua orang petugas kesehatan. Satu orang melakukan pengukuran, yang lain melakukan pencatatan hasil pengukurannya.

Klasifikasi status berat badan mengikuti panduan WHO untuk populasi Asia Pasifik: underweight, IMT <18,5; normal, IMT 18,5-22,9; overweight, IMT 23,0-24,9; obese I, IMT 25,0-29,9; dan obese II, IMTā‰„30,0 kg/m2. Rasio pinggang terhadap panggul didefinisikan sebagai hasil pengukuran lingkar pinggang dibagi dengan hasil pengukuran lingkar panggul. Obesitas sentral didefinisikan sebagai lingkar pinggang 90 cm atau lebih pada pria dan 80 cm atau lebih pada wanita. Jika menggunakan rasio lingkar pinggang terhadap lingkar panggul, disebut obesitas sentral jika rasionya 0,9 atau lebih pada pria dan 0,85 atau lebih pada wanita.

Pengukuran tekanan darah menggunakan manometer air raksa setelah subyek beristirahat dalam posisi duduk selama sepuluh menit. Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali pada lengan yang sama, dengan jeda antar pemeriksaan selama setidaknya 30 detik. Tekanan darah sistolik dan diastolik pasien dihitung dengan merata-rata tiga hasil pengukuran tersebut.

 

Metode statistik

Analisis regresi logistik dilakukan untuk menentukan odds ratio (OR) dengan tingkat kepercayaan 95% untuk gangguan kognitif. Yang dijadikan kelompok kontrol untuk IMT adalah kategori 18,5-23,0 kg/m2. Untuk lingkar pinggang, yang menjadi kelompok kontrol adalah pria dengan lingkar pinggang kurang dari 90 cm dan wanita dengan lingkar pinggang kurang dari 80 cm, dan untuk rasio lingkar pinggang terhadap lingkar panggul angkanya adalah <0,9 untuk pria dan <0,85 untuk wanita. Variabel yang dikendalikan (adjusted) pada analisis regresi logistik adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, tekanan darah, riwayat diabetes mellitus, dan abnormalitas lemak darah. Semua analisis statistik dilakukan menggunakan SPSS 19.0. Semua nilai p berdasarkan tes two-tailed dengan tingkat kemaknaan 0,05.

 

Hasil

Dari 2809 subyek didapatkan rata-rata usia 70,6 tahun (SD=6,6), dengan kisaran 60 hingga 92 tahun. Terdapat 1010 pria dan 1799 wanita, dan 198 menjalani penapisan untuk gangguan kognitif. Pada populasi ini, prevalensi obesitas, berdasarkan IMT 25 kg/m2 atau lebih, sebesar 47,2% pada keseluruhan subyek, 42,5% pada pria dan 50% pada wanita. Tidak ditemukan perbedaan bermakna antara pria dan wanita untuk variabel IMT dan lingkar pinggang, meskipun berat badan, tinggi badan, dan lingkar panggul lebih tinggi secara bermakna pada pria dibandingkan pada wanita. Rata-rata nilai C-MMSE lebih tinggi secara bermakna pada pria dibandingkan pada wanita.

Usia yang lebih tua, jenis kelamin perempuan, tidak memiliki pendidikan formal, memiliki tekanan darah tinggi, gangguan lemak darah, IMT kurang dari 18,5 kg/m2, lingkar pinggang yang lebih tinggi, dan rasio lingkar pinggang terhadap lingkar panggul yang lebih tinggi ditemukan berhubungan dengan peningkatan gangguan kognitif. Merokok, konsumsi alkohol, dan aktivitas fisik ditemukan berhubungan negatif terhadap gangguan kognitif. Hubungan-hubungan yang ditemukan dievaluasi lebih lanjut dengan analisis multivariabel.

 

Pembahasan

Pada penelitian cross-sectional pada lansia ini ditemukan bahwa IMT <18,5 kg/m2 berhubungan positif dengan peningkatan prevalensi gangguan kognitif. Di sisi lain, angka lingkar pinggang dan rasio pinggang terhadap panggul yang besar juga berhubungan dengan peningkatan prevalensi gangguan kognitif. Hasil ini menunjukkan bahwa efek obesitas generalisata dan obesitas sentral dapat berbeda.

Masih belum diketahui dengan jelas apakah obesitas total, mengacu pada IMT, meningkatkan risiko demensia, penyakit Alzheimer, dan gangguan kognitif. Penelitian potong lintang menunjukkan bahwa lansia penderita demensia memiliki IMT yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami gangguan kognitif. Ada penelitian yang menemukan bahwa IMT yang rendah tidak secara signifikan meningkatkan risiko gangguan kognitif setelah dilakukan penyesuaian pada faktor-faktor komorbid. Pada penelitian lain IMT yang tinggi secara bermakna meningkatkan risiko gangguan kognitif.

Distribusi lemak tubuh di bagian abdominal, yang disebut sebagai obesitas sentral dan diukur dengan lingkar pinggang dan rasio pinggang terhadap panggul, adalah faktor risiko yang lebih poten dan independen untuk diabetes tipe 2, resistensi insulin, penyakit jantung koroner, stroke, dan mortalitas dibandingkan dengan obesitas total. Pada penelitian lain, ditemukan bahwa obesitas sentral berhubungan dengan peningkatan risiko demensia yang independen terhadap demografi, diabetes, komorbiditas kardiovaskuler, dan IMT.

Mekanisme yang mengaitkan IMT, independen dari obesitas sentral, terhadap gangguan kognitif atau demensia masih belum jelas. Pada penelitian cross-sectional yang melibatkan lansia wanita dalam jumlah besar, partisipan pada kuartil tertinggi dari massa jaringan lunak tanpa lemak memiliki penurunan risiko dibandingkan mereka yang ada di kuartil terendah. Mungkin juga kehilangan otot dan penumpukan lemak sentral dapat bekerja secara sinergis untuk meningkatkan risiko gangguan kognitif pada populasi lansia.

Lingkar pinggang adalah indikator yang lebih akurat untuk menunjukkan tingkat lemak viseral dibandingkan dengan IMT, persentase lemak tubuh, atau rasio pinggang terhadap panggul, terutama pada lansia. Lingkar pinggang juga berkorelasi dengan baik dengan baku emas (gold standard) yaitu CT scan dan MRI abdomen.

Hubungan antara status berat badan dan gangguan kognitif dapat pula melewati sejumlah faktor risiko petensial, seperti tekanan darah tinggi, kadar glukosa, dan profil lipid. Banyak penelitian yang membuktikan korelasi positif antara peningkatan kadar gula darah dan gangguan kognitif.

 

-=-

 

Ucapan terima kasih

Penelitian ini didukung oleh hibah dari Shanghai Key Project of Basic Science Research (07DJ14005, 09DZ1950400) dan The Natural Science Foundation of China (No 81102670, No 81072957), Shanghai Jiaotong University Biomedical Engineering Crossover Project (YG2011MS12), Training Foundation for University Young Teacher of Shanghai (shzy015), dan Budgetary Research Projects of Shanghai Municipal Education Commission (2010JW03).

 

Judul asli

The association of weight status with cognitive impairment in the elderly population of a Shanghai suburb

 

Afiliasi penulis

Guo-Hong Cui MD, PhD: Department of Neurology, Shanghai No. 6 People’s Hospital, Shanghai Jiaotong University School of Medicine, Shanghai, China; Department of Neurology, Ruijin Hospital affiliated to School of Medicine, Shanghai Jiaotong University, Shanghai, China

Hai-Dong Guo PhD: Department of Anatomy, School of Basic Medicine, Shanghai University of Traditional Chinese Medicine, Shanghai, China

Rui-Fang Xu MD: Qingpu District Center for Disease Control and Prevention, Shanghai, China

Guo-Xin Jiang PhD: School of Public Health, Shanghai Jiaotong University, Shanghai, China; Department of Public Health Sciences, Karolinska Institute, Stockholm, Sweden

Sheng-Di Chen MD, PhD: Department of Neurology, Ruijin Hospital affiliated to School of Medicine, Shanghai Jiaotong University, Shanghai, China

Qi Cheng MD, PhD: School of Public Health, Shanghai Jiaotong University, Shanghai, China; Department of Neurology, Ruijin Hospital affiliated to School of Medicine, Shanghai Jiaotong University, Shanghai, China

 

Asia Pac J Clin Nutr 2013;22 (1):74-82, doi: 10.6133/apjcn.2013.22.1.18

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *