Infark Miokard Akut Sebagai Silent Killer

Infark Miokard Akut (AMI) merupakan salah satu manifestasi klinis penyakit jantung koroner. Infark miokard akut, yang dikenal sebagai serangan jantung adalah terbentuknya suatu daerah nekrosis pada sel otot miokardium akibat suplai darah yang tidak adekuat ke suatu daerah yang diawali dengan iskemik. Infark miokard akut adalah penyebab utama morbiditas maupun mortalitas di seluruh dunia. Laju mortalitas awal yaitu 30 hari pada pasien IMA sebesar 30% dengan lebih dari separuh terjadi kematian sebelum pasien mencapai rumah sakit. Walaupun laju mortalitas menurun yaitu sebanyak 30% dalam 2 dekade terakhir, sekitar 1 diantara 25 pasien yang tetap hidup pada perawatan awal, meninggal dalam tahun pertama setelah AMI. Penyakit kardiovaskuler di Amerika Serikat pada tahun 2005, mengakibatkan 864.500 kematian atau 35,3% dari seluruh kematian pada tahun itu, dan 151.000 kematian akibat infark miokard. Sebanyak 715.000 orang di Amerika Serikat diperkirakan menderita infark miokard pada tahun 2012. Sebanyak 478.000 pasien di Indonesia terdiagnosis penyakit jantung koroner menurut Departemen Kesehatan pada tahun 2013.

-= Dapatkan potongan harga spesial untuk aneka barang, klik iklan berikut ini =-

-=-

Penyakit Infark Miokard Akut (AMI) merupakan salah satu penyakit yang mengenai jantung yang sangat penting karena penyakit ini di derita oleh jutaan orang dan merupakan penyebab kematian utama di beberapa negara termasuk Indonesia. Penyakit infark miokard akut ini juga merupakan salah satu masalah kesehatan yang terdapat di Kecamatan Sanden, Bantul. Penyakit infark miokard akut merupakan penyakit yang jika dibiarkan akan menimbulkan kematian. Semakin meningkatnya pasien penyakit infark miokard akut yang berkunjung ke Puskesmas Sanden setiap tahunnya membuat penyakit ini menjadi salah satu penyakit yang perlu diperhatikan sehingga menjadi dasar dalam menjalankan program kegiatan komunitas di Sanden. Terbatasnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit penyakit ini serta menganggap bahwa nyeri dada adalah hal yang wajar menjadi faktor risiko meningkatnya angka kematian akibat penyakit ini di wilayah Sanden, sehingga sangat perlu untuk dilakukan deteksi dini dan penanganan segera pada penderita penyakit infark miokard akut ini.

Faktor yang sering bisa menyebabkan AMI ini sendiri adalah usia >40 tahun, jenis kelamin (insiden pada pria tinggi, sedangkan pada wanita meningkat setelah menopause), hereditas, ras (lebih tinggi insiden pada kulit hitam). Ada juga faktor yang tidak dapat diubah yaitu seperti hipertensi, merokok, diabetes, obesitas, inakifitas fisik, pola keperibadian tipe A (emisional, agresif, ambisius, kompetitif), stress psikologis berlebihan. Pada populasi di daerah kecamatan Sanden, pasien yang banyak berkunjung ke Puskesmas Sanden adalah usia >55 tahun dan kebanyakan adalah pria (sebanyak 63%). Hal ini bisa dilihat dimana penderita disini kebanyakan laki-laki dan dimana faktor seperti merokok masih banyak dijumpai di masyarakat Sanden dan sekitarnya. Ditambah adanya kebiasaan dan budaya yang ada yaitu pola makan makanan yang berlemak seperti goreng-gorengan menambah faktor terjadinya penyakit infark miokard ini.

Sebenarnya masalah yang timbul di kalangan masyarakat adalah kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit jantung dan keterampilan dari kader kesehatan untuk menangani penyakit jantung ini. Keterbatasan peralatan dan obat untuk melakukan pertolongan pertama juga menjadi masalah dengan tingginya prevalensi dari AMI ini sendiri. Penyebab dari masalah ini adalah kader kesehatan jarang mendapat pengarahan dan pelatihan. Selain itu kurangnya petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan maupun melakukan deteksi dini AMI. Padahal jumlah kasus AMI sendiri cukup banyak. Media untuk menjadi alat penyuluhan juga kurang. Seperti contoh pembagian leaflet atau brosur terkait masalah penyakit jantung masih kurang. Obat juga yang tersedia juga terbatas. Jika ada pasien yang mengalami nyeri dada, masih belum tersedianya obat untuk pertolongan pertama. Belum adanya inventarisasi yang baik juga menambah daftar masalah dalam mengatasi AMI ini sendiri.

Alternatif dalam pemecahan masalah ini adalah dapat memberikan sosialisasi dan pelatihan cara menangani pasien AMI, memberikan media berupa brosur untuk menjadi alat bantu untuk menambah pengetahuan penduduk tentang AMI, melakukan evaluasi kebutuhan obat untuk pertolongan pertama, pengadaan peralatan yang dibutuhkan untuk menentukan diagnosis pasien. Hal ini bisa sangat membantu dalam menangani kasus dari AMI sendiri. Penyuluhan dan pelatihan cara menangani pasien AMI, pengadaan dan penataan ulang obat untuk pertolongan pertama, pengadaan peralatan yang dibutuhkan untuk menentukan diagnosis pasien, juga dapat menjadi alternatif lain dalam menangani AMI.

Semua hal diatas tidak dapat terlaksana dengan baik tanpa adanya kesadaran masyarakat dalam pengetahuan masalah penyakit jantung itu sendiri dan juga bantuan dari para tokoh masyarakat dalam menyadarkan masyarakat terkait masalah penyakit jantung. Dengan lebih melibatkan peran serta tokoh masyarakat ataupun organisasi masyarakat setempat dalam mendukung deteksi dini AMI, serta melakukan penyuluhan rutin serta memperbaiki strategi program penyuluhan dengan menyediakan sarana penyuluhan seperti brosur, poster yang mudah dipahami masyarakat dengan menggunakan bahasa sederhana, dan membangun koordinasi yang baik antara puskesmas, kader, maupun tokoh masyarakat setempat, bisa sangat membantu dalam penanganan masalah AMI ini sendiri.

alat ukur tekanan darah

Dalam hal penyakit jantung, mencegah lebih baik daripada mengobati. Pencegahan itu sendiri seperti berhenti merokok bagi para perokok atau hindari paparan asap rokok, kontrol tekanan darah, makan makanan yang menyehatkan, olah raga ringan minimal 30 menit sehari, mencapai atau mempertahankan berat badan yang ideal, lingkar pinggang ≤40 inci pada pria dan ≤35 inci pada wanita, mengontrol kadar gula dalam darah. Jika telah terjadi gejala segera bawa ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat. Penanganan yang cepat dan tepat dapat mencegah kondisi penyakit menjadi lebih buruk lagi.

Dikirim oleh Yosephine Muliana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *