Kejadian Tuli Sensorineural Pada Lansia Di Puskesmas Sanden

Tuli merupakan gangguan pendengaran yang berkaitan dengan kemampuan mendeteksi frekuensi suara tertentu baik sepenuhnya maupun sebagian. Gangguan pendengaran merupakan salah satu kelainan yang berpengaruh besar terhadap kualitas hidup seseorang, baik pada usia muda maupun pada usia tua. Gangguan ini dapat berpengaruh terhadap pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial penderita. Tuli sensorineural merupakan jenis gangguan pendengaran yang disebabkan oleh kelainan pada saraf vestibulokoklear atau saraf kranial VIII, telinga bagian dalam atau batang otak. Sekitar 120 juta orang yang mengalami gangguan pendengaran di seluruh dunia, sebanyak 50% dapat dicegah. Penyebab utama ketulian yang dapat dicegah adalah penyakit kronis telinga yang sebagian besar disebabkan karena otitis media kronis, infeksi susunan saraf pusat terutama meningitis dan ototoksisitas yang sebagian disebabkan oleh antimikroba. Identifikasi secara dini penyakit ini penting untuk mencegah adanya gangguan pendengaran lebih lanjut.

-= Temukan banyak promo menarik dari Lazada, klik saja iklan berikut ini =-

-=-

Pada lansia sendiri kelainan pendengaran sudah menjadi hal yang biasa terjadi karena adanya degenerasi dari sel-sel tubuh. Kemunduran dari berbagai sel tubuh ini akan menyebabkan beberapa kelaian seperti halnya gangguan pada bagian telinga yang menyebabkan berkurangnya pendengaran. Penyakit-penyakit lain seperti hipertensi, diabetes melitus, dan hiperkolesterolemia dapat mempengaruhi pembuluh darah koklea dan menurunkan transportasi nutrisi sehingga mengakibatkan degenerasi sekunder pada saraf pendengaran. Gangguan pendengaran ini akan berpengaruh terhadap kondisi lansia secara menyeluruh. Mulai dari kondisi jasmani hingga kondisi kesejahteraan. Gangguan pendengaran ini dapat mengakibatkan masalah psikososial seperti depresi dan cemas. Gangguan pendengaran pada usia lanjut dapat ditemukan di berbagai tempat dan di berbagai populasi dengan paling banyak berada pada usia diatas 60 tahun. Berdasarkan data dari Puskesmas Sanden pada tahun 2016 diketahui bahwa tuli sensorineural tidak masuk dalam 10 besar penyakit di Puskesmas Sanden. Walaupun gangguan tersebut tidak masuk dalam 10 besar penyakit di Kecamatan Sanden, namun akibat yang muncul dari gangguan pendengaran pada lansia ini dapat berpengaruh besar terhadaap kualitas hidup lansia di Kecamatan Sanden. Berdasarkan data dari Puskesmas Sanden dari bulan Januari tahun 2016 hingga bulan Desember tahun 2016 didapatkan kasus tuli sensorineural di Kecamatan Sanden sebanyak 2 kasus dari total 42 kasus hearing loss. Dari data tersebut diketahui bahwa kejadian tuli sensorineural masih sedikit dan tidak masuk dalam 10 besar penyakit Puskesmas Sanden antara Januari hingga Desember 2016. Sedangkan pada tahun 2017 sendiri dari bulan Januari hingga April didapatkan 3 kasus tuli sensorineural dari total 18 kasus hearing loss. Menurut data yang ada kasus tuli sensorineural sering dijumpai pada usia tua yakni >60 tahun (lansia). Adanya masalah tuli sensorineural pada lansia ini dapat memberikan dampak yang kurang baik bagi kualitas hidup lansia tersebut. Lansia juga dapat mengalami cemas maupun depresi apabila keluarga dan masyarakat kurang meperhatikan lansia penderita tuli sensorineural di wilayah kerja Puskesmas Sanden tersebut.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian tuli sensorineural di wilayah kerja Puskesmas Sanden dapat dilihat melalui analisis agent, host, dan lingkungan (environment). Agent merupakan faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit ini seperti adanya infeksi berulang. Infeksi berulang ini dapat terjadi karena penderita tidak memperhatikan dan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) maupun karena penderita lebih sering mengabaikan sakit telinga yang ada. Dari faktor host sendiri yang dapat berpengaruh adalah diri penderita sendiri terlebih bila penderita merupakan lansia yang memiliki resiko tinggi terjadi tuli sensorineural akibat adanya degenerasi berbagai sel-sel tubuh. Sedangkan faktor lingkungan yang berpengaruh adalah kondisi rumah, lingkungan kerja maupun lingkungan tempat tinggal penderita. Suasana yang bising (polusi suara berlebih) dapat memicu adanya tuli sensorineural ini.

Puskesmas Sanden merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang ada di Kecamatan Sanden. Puskesmas ini memiliki jumlah tenaga kesehatan yang cukup memadai dan memiliki kemampuan yang cukup baik. Penanganan terhadap pasien tuli sensorineural di Puskesmas Sanden selama ini dilakukan dengan baik karena sudah adanya kemudahan dalam jalur rujukan sehingga penderita tulisensorineural dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Pada fasilitas kesehatan tingkat lanjut ini penderita akan diarahkan pada dokter spesialis THT (Telinga Hidung dan Tenggorok) sehingga bisa mendapatkan penanganan yang tepat yakni berupa alat bantu dengar. Alat bantu dengar ini juga sudah mendapatkan subsidi dari BPJS. Hal ini akan lebih meringankan penderita tuli sensorineural terlebih yang memiliki jaminan kesehatan.

Penanganan terhadap penderita tuli sensorineural di Puskesmas Sanden sudah berjalan dengan baik dengan merujuk penderita tersebut. Namun tindakan-tindakan pencegahan terkait tuli sensorineural belum begitu berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dengan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang tuli sensorineural itu sendiri, faktor risiko, dan dampaknya. Padahal di wilayah kerja puskesmas sendiri sudah ada fasilitas kesehatan yang dekat dan mudah di akses, adanya posyandu, adanya siaran radio Paworo yang dapat memberikan informasi terkait penyakit ini. Beberapa cara yang dapat diambil untuk melakukan kegiatan promotif dan preventif terkait tuli sensorineural adalah dengan melakukan penyuluhan terkait tuli sensorineural dan pembinaan PHBS melalui kunjungan rumah, melalui siaran radio, maupun dalam setiap kegiatan yang ada di masyarakat. Brosur dan leaflet dapat diberikan untuk membantu mengingat pengetahuan yang didapat melalui penyuluhan.

Di Kecamatan Sanden sendiri ditemukan banyak kendaraan bermotor yang memiliki suara keras. Adanya peraturan yang mengatur tingkat kebisingan baik itu pada kendaraan bermotor maupun lingkungan kerja diperlukan untuk dapat mengatur tingkat kebisingan sehingga tidak menjadi faktor resiko adanya tuli sensorineural di wilayah kerja Puskesmas Sanden. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk membantu mengontrol knalpot kendaraan bermotor sehingga tidak menghasilkan polusi suara. Dari berbagai penjelasan diatas maka didapatkan kesimpulan bahwa butuh kerjasama yang sinergis anatara berbagai sektor untuk membantu pencegahan dan penanganan penderita tuli sensorineural di wilayah kerja Puskesmas Sanden.

gambar telinga

Dikirim oleh Yolenta Marganingsih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *