Kompetensi Apoteker di Puskesmas

Sumber daya manusia untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di Puskesmas adalah apoteker (Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan). Kompetensi apoteker di Puskesmas sebagai berikut:

  • Mampu menyediakan dan memberikan pelayanan kefarmasian yang bermutu
  • Mampu mengambil keputusan secara profesional
  • Mampu berkomunikasi yang baik dengan pasien maupun profesi kesehatan lainnya dengan menggunakan bahasa verbal, nonverbal maupun bahasa lokal
  • Selalu belajar sepanjang karier baik pada jalur formal maupun informal, sehingga ilmu dan keterampilan yang dimiliki selalu baru (up to date).

Sedangkan asisten apoteker hendaknya dapat membantu pekerjaan apoteker dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian tersebut.

 

Baca juga:

 

Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit menyebut, RS tipe A wajib punya minimal 15 apoteker. Adapun RS tipe B harus punya 13 apoteker, RS tipe C 8 apoteker, dan RS tipe D minimal 3 apoteker. Sementara puskesmas harus memiliki minimal satu apoteker.

obat puskesmas indonesia obat

Nyatanya, banyak RS, puskesmas, dan klinik belum memiliki jumlah apoteker sesuai aturan. Padahal, jumlah apoteker yang ada diyakini cukup. Berdasarkan data Komite Farmasi Nasional, ada 54.921 apoteker yang terdaftar di Indonesia.

“Belum semua puskesmas memiliki apoteker,” kata Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Maura Linda Sitanggang. Sebagai pengganti, urusan kefarmasian di puskesmas dipegang tenaga teknis kefarmasian, baik sarjana farmasi atau ahli madya farmasi.

 

Sumber:

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 2006.

Kompas. Tegakkan Sistem Pengawasan Farmasi. 10 Agustus 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *