Leptospirosis Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat

Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikroorganisme Leptospira interogans tanpa memandang bentuk spesifik serotipenya. Penyakit ini disebut juga sebagai Weil disease, Canicola fever, Hemorrhagic jaundice, Mud fever, atau Swineherd disease. Ada 3 (tiga) kriteria yang ditetapkan dalam mendefinisikan kasus Leptospirosis yaitu kasus suspek, kasus probable, dan kasus konfirmasi.

Leptospirosis merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia, khususnya di negara-negara yang beriklim tropis dan subtropis. WHO menyebutkan kejadian Leptospirosis di negara subtropis berkisar antara 0,1–1,0 kejadian tiap 100.000 penduduk setiap tahun. Sedangkan di negara tropis berkisar antara 10,0–100,0 kejadian tiap 100.000 penduduk setiap tahun. Tingginya curah hujan menyebabkan lebih mudahnya penularan. Leptospirosis lebih cepat terjadi di negara beriklim tropis.

International Leptospirosis Society menyatakan Indonesia sebagai negara dengan insiden leptospirosis yang tinggi dan peringkat ketiga di dunia untuk mortalitas. Pada tahun 2010 baru 7 provinsi yang melaporkan kasus suspek Leptospirosis yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bengkulu, Kepulauan Riau dan Sulawesi Selatan. Situasi Leptospirosis di Indonesia dari Tahun 2004 sampai tahun 2011 cenderung meningkat, tahun 2011 terjadi 690 kasus Leptospirosis dengan 62 orang meninggal (CFR 9%), mengalami kenaikan yang tajam bila dibandingkan 7 (tujuh) tahun sebelumnya, hal tersebut dikarenakan terjadi KLB di Provinsi Yogyakarta (Kabupaten Bantul dan Kulon Progo). Kasus terbanyak dilaporkan Provinsi DI Yogyakarta yaitu 539 kasus dengan 40 kematian (CFR 7,42%) dan Provinsi Jawa Tengah dengan 143 kasus dengan 20 kematian (CFR 10,6%). Hal ini menunjukkan perlu penanganan yang lebih serius untuk penanganan kasus leptospirosis.

Faktor faktor yang dapat mempengaruhi kejadian leptospirosis dapat dilihat melalui analisis agent, host, dan lingkungan (environment). Faktor host sendiri yang dapat berpengaruh adalah diri penderita sendiri yaitu karena kurangnya pengetahuan pasien penyakit leptospirosis baik penyebab, tanda gejala dan pencegahannya. Sedangkan faktor lingkungan yang berpengaruh adalah kondisi rumah, lingkungan kerja maupun lingkungan tempat tinggal penderita. Di dalam rumah sering menjadi tempat berkeliaran tikus terutama tikus wirog karena di rumah banyak lubang sehingga tikus dapat masuk ke dalam rumah. Kamar mandi perlu menjadi perhatian dimana kemungkinan air untuk mandi dapat terinfeksi kencing dari tikus. Selain itu masyarakat sering tidak pernah menutup makanan yang berada di meja makan. Hal tersebut menyebabkan makanan yang dimakan berpotensi sudah terkena kencing tikus yang sudah terinfeksi. Tingkat pendidikan berhubungan dengan kemampuan menerima informasi tentang penyakit leptospirosis dan kemauan untuk mencari tahu informasi penyakit leptospirosis.

leptospirosis disebarkan oleh tikus

Tindakan-tindakan pencegahan terkait leptospirosis belum begitu berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dengan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang leptospirosis itu sendiri, faktor resiko, dan dampaknya, kemudian tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi yang masih rendah. Peningkatan pengetahuan masyarakat dapat dilakukan dengan penyuluhan rutin dengan menyediakan sarana penyuluhan seperti brosur, poster yang mudah dipahami oleh masyarakat dengan menggunakan bahasa yang cukup sederhana. Hal ini sangat penting untuk pencegahan terhadap penyakit leptospirosis. Membangun koordinasi baik antara pihak puskesmas, para kader maupun tokoh masyarakat dalam mendukung penanganan leptospirosis menjadi strategi yang cukup baik agar memberikan pelayanan kesehatan dari masyarakat dan untuk masyarakat.

Errysa UKDW

Dikirim oleh Bernhard Errysa Satria Pattriskak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *