Malnutrisi pada CMV, CP, dan Gross Motor Delay

Cytomegalovirus (CMV) cerebral disease atau dikenal juga sebagai CMV cerebral palsy adalah kelainan otak kongenital yang disebabkan oleh infeksi intrauterin oleh cytomegalovirus. Selain cytomegalovirus juga terdapat berbagai virus yang dapat menginfeksi janin saat masih dalam kandungan dan berisiko secara langsung atau tidak langsung untuk menyebabkan gangguan otak. Virus-virus tersebut antara lain: herpes simplex virus (HSV-1 dan HSV-2), varicella zoster virus (VZV), Epstein-Barr virus (EBV), dan human herpes virus 6, 7, dan 8 (HHV-6, HHV-7, dan HHV-8), serta enterovirus (Gibson et al., 2006).

Cerebral palsy (CP) didefinisikan sebagai sekelompok kondisi nonprogresif pada perkembangan pengaturan motorik yang timbul pada masa awal kehidupan. Kondisi ini sering disertai oleh gangguan sensasi, persepsi, kognisi, komunikasi, dan perilaku. Dapat juga disertai oleh epilepsi dan masalah muskuloskeletal lainnya. Meskipun masalah utama penderita CP adalah gangguan perkembangan sistem saraf, namun sering dijumpai pasien yang juga mengalamai gangguan tumbuh kembang secara umum dan malnutrisi (Rempel, 2015). Hal ini diperparah oleh beragamnya gangguan nutrisi yang mungkin timbul, dan dapat timbul lebih dari satu masalah gizi pada satu pasien (Gladstone et al., 2014).

Faktor nutrisional yang mempengaruhi pertumbuhan dan status gizi penderita CP (Rempel, 2015):

  • Intake inadekuat terutama berhubungan dengan gangguan makan
  • Peningkatan kehilangan energi
  • Peningkatan penggunaan energi.

Perbaikan status gizi penderita CP memiliki beberapa tujuan: meningkatkan kesehatan secara menyeluruh, meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan otak, meningkatkan kesehatan tulang, dan meningkatkan survival rate. Pemenuhan kebutuhan gizi harus secara bertahap, jika menggunakan selang nasogastrik bisa dimulai dari 50-70% kebutuhan energi. Harus dipastikan kebutuhan energi, protein, vitamin D, dan mikronutrien selalu terpenuhi (Rempel, 2015).

Gizi buruk disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama adalah faktor pengadaan makanan yang kurang mencukupi suatu wilayah tertentu. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya potensi alam atau kesalahan distribusi. Faktor kedua adalah dari segi kesehatan sendiri, yakni adanya penyakit kronis terutama gangguan pada metabolisme atau penyerapan makanan. Selain itu, ada tiga hal yang saling berkaitan dalam hal gizi buruk, yaitu kemiskinan, pendidikan rendah dan kesempatan kerja rendah. Ketiga hal itu mengakibatkan kurangnya ketersedian pangan di rumah tangga dan pola asuh anak keliru. Hal ini mengakibatkan kurangnya asupan gizi. Penyebab lain timbulnya masalah gizi buruk, adalah kurang baiknya sanitasi dan pengetahuan tentang gizi, serta tidak tercukupinya menu seimbang pada konsumsi sehari-hari (Azis & Muzakkir, 2014). Untuk mengatasi kekurangan gizi perlu pengetahuan mengenai pilihan makanan yang tinggi kalori dan protein (Sugiani & Kusumayanti, 2011).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *