Malnutrisi pada DM, Struma, dan Pasca Amputasi

Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (PERKENI, 2015). Terdapat beberapa klasifikasi Diabetes, diantaranya adalah Diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2. Diabetes Melitus Tipe 1 diakibatkan oleh kekurangan produksi insulin karena adanya destruksi sel beta pankreas, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut. Diabetes Melitus Tipe 2 penyebabnya bervariasi mulai yang predominan resistensi insulin dengan atau tanpa defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin (Gandy et al., 2014).

Terapi gizi adalah salah satu terapi yang sangat direkomendasikan bagi penderita diabetes. Pada prinsipnya terapi gizi melakukan pengaturan pola makan yang didasarkan pada status gizi pasien dan melakukan modifikasi diet berdasarkan kebutuhan individual. Manfaat dari terapi gizi terhadap pasien dengan DM antara lain (Sudoyo et al., 2006):

  • Menurunkan berat badan
  • Menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolic
  • Menurunkan kadar glukosa darah
  • Memperbaiki profil lipid
  • Meningkatkan sensivitas reseptor insulin
  • Memperbaiki sistem koagulasi darah.

Beberapa faktor yang harus diperhatikan sebelum melakukan perubahan pola makan pasien antara lain, tinggi badan, berat badan, status gizi, status kesehatan, aktivitas fisik, dan faktor usia. Selain itu juga terdapat beberapa faktor fisiologi seperti masa kehamilan, masa pertumbuhan, gangguan pencernaan pada usia tua, dan lain lain. Pada keadaan infeksi berat dimana terjadi proses katabolisme yang tinggi perlu dipertimbangkan pemberian nutrisi khusus. Masalah lain yang tidak kalah penting adalah status ekonomi, lingkungan, kebiasaan atau tradisi di dalam lingkungan yang bersangkutan serta kemampuan petugas kesehatan yang ada. Perubahan pola makan yang dilakukan harus konsisten baik dalam jadwal, jumlah, dan jenis makanan sehari-hari (Sudoyo et al., 2006).

Syarat diet penyakit Diabetes Melitus adalah (Almatsier, 2008):

  • Energi cukup untuk mencapai dan memepertahankan berat badan normal. Kebutuhan energi ditentukan dengan memperhitungkan kebutuhan untuk metabolisme basal sebesar 25-30 kkal/kg BB normal, ditambah kebutuhan untuk aktivitas fisik dan keadaan khusus. Makanan dibagi dalam 3 porsi besar, yaitu makan pagi (20%), siang (30%), dan sore (25%), serta 2-3 porsi kecil untuk makanan selingan (masing-masing 10-15%)
  • Kebutuhan protein normal, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total
  • Kebutuhan lemak sedang, yaitu 20-25% dari kebutuhan energi total, dalam bentuk <10% berasal dari lemak jenuh, 10% dari lemak tak jenuh ganda, sedangkan sisanya dari lemak tak jenuh ganda. Asupan kolesterol makanan dibatasi, yaitu <300 mg per hari.
  • Kebutuhan karobohidrat adalah sisa dari kebutuhan energi total, yaitu 60-70%
  • Penggunaan gula muni dalam minuman dan makanan tidak diperbolehkan kecuali jumlahnya sedikit sebagai bumbu. Bila kadar glukosa darah sudah terkendali, diperbolehkan mengkonsumsi gula murni sampai 5% dari kebutuhan energi total.
  • Penggunaan gula alternatif dalam jumlah terbatas. Yang termasuk gula alternatif bergizi adalah fruktosa, dan yang tidak bergizi adalah aspartam dan sakarin. Fruktosa dalam jumlah 20% dari total kebutuhan energi dapat meningkatkan kolesterol dan LDL.
  • Asupan serat 25 g per hari dengan mengutamakan serat larut air yang terdapat dalam sayur dan buah
  • Pasien dengan tekanan darah normal diperbolehkan mengkonsumsi natrium dalam bentuk garam dapur seperti orang sehat, yaitu 300 mg/hari.
  • Cukup vitamin dan mineral.

Penderita diabetes berisiko mengalami berbagai komplikasi pada berbagai sistem organ. Kaki diabetes merupakan salah satu komplikasi kronik DM yang paling ditakuti. Masalah kaki diabetes kebanyakan berujung pada amputasi karena ulkus yang sudah tidak dapat ditangani. Kadar glukosa darah diusahakan agar selalu senormal mungkin untuk memperbaiki berbagai faktor terkait hiperglikemia yang dapat menghambat penyembuhan luka. Status gizi harus diperhatikan dan diperbaiki karena gizi yang baik jelas membantu kesembuhan luka (Sudoyo et al., 2006).

Pada pasien pasca operasi besar, misalnya pasca operasi fraktur panggul, dukungan nutrisi yang diawasi oleh ahli gizi dan dikelola berdasarkan pengukuran REE secara berulang akan memberikan hasil yang baik (Anbar et al., 2014). Untuk menunjang penyembuhan luka post amputasi diperlukan penilaian status gizi dan asuhan gizi yang tepat, terutama untuk penderita diabetes (BWH, 2011).

Banyak pemilihan diet pada pasien pasca operasi yang hanya didasarkan pada intuisi dokternya tanpa bukti ilmiah yang kuat. Pemberian diet DM pada pasien diabetes pasca operasi bertujuan utama untuk membantu mengontrol kadar gula darah. Pada pasien diabetes yang tidak memiliki gangguan ginjal tidak diperlukan pembatasan pemberian protein (Sriram et al., 2015). Bahkan jika pasien diabetes tersebut mengalami penyakit ginjal kronik, pengurangan diet protein pada diet DM tidak direkomendasikan karena tidak mengubah kadar glikemik, resiko kejadian kardiovaskuler, atau penurunan GFR (PERKENI, 2015).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *