Masih Ada Gizi Buruk di Indonesia

Pasien seorang anak laki-laki berusia 4 tahun 4 bulan mempunyai riwayat gizi buruk. Penulis bertemu dengan anak tersebut saat pembagian makanan tambahan (PMT). Ibu dari anak tersebut bercerita bahwa anak tersebut sejak lahir berat badannya sudah rendah atau tidak seperti anak-anak lainnya di sekitar rumahnya. Sang anak tidak mau makan nasi sejak usia 1 tahun. Jika diberikan nasi anak tersebut mengatakan “wedi aku, nasi ne pedes” yang berarti takut saya, takut nasinya terasa pedas. Saat ditanyakan pada sang ibu apakah pernah diberikan makanan pedas baik secara tidak sengaja, sang ibu mengatakan tidak pernah. Hingga saat ini, anak hanya mau makan makanan gorengan, cemilan manis, roti. Anak minum susu sehari hingga 8 kali dengan takaran gelas berukuran 250 ml. Anak minum susu kaleng. Dalam sebulan anak dapat menghabiskan 7-8 kaleng susu.

-= Dapatkan potongan harga spesial untuk aneka barang, klik iklan berikut ini =-

-=-

Kakak dari anak tersebut (laki-laki berusia 7 tahun) juga mengalami hal yang sama yaitu mempunyai riwayat berat badan sejak lahir rendah dan setiap dicatat di buku KMS grafik anak di bawah garis merah. sang ibu bercerita bahwa kakak sering sakit-sakitan. Hal ini berbeda dengan pasien yang jarang sakit. Kedua anak ini mempunyai berat badan lahir sama yaitu 2.150 gram dengan panjang badan 49 cm. Persalinan kedua-duanya melalui operasi caesario karena kantung ketuban ibu tipis sehingga terjadi ketuban pecah dini dan jumlah air ketuban sedikit. Kakak pasien pernah sakit TBC karena tertular dari pamannya yang sedang berkunjung saat usia 4 bulan tetapi sudah menjalani pengobatan dan sudah sembuh. Saat itu, pasien belum lahir.

Pasien sudah diimunisasi dasar lengkap. Pasien pernah sakit konjungtivitis saat berusia 4 bulan dan ibu memeriksakan terkait status gizi pasien sejak usianya 1,5 tahun. Pasien sudah sering mendapatkan PMT dan konseling gizi tetapi berat badan pasien tidak kunjung naik di atas garis merah. Sang ibu mengatakan kondisi anak ini sudah diusahakan untuk bisa memiliki berat badan normal tetapi ibu mempunyai keyakinan bahwa selama anak masih aktif dan tidak sakit sang ibu tidak terlalu khawatir karena sang ibu juga mempunyai riwayat yang sama yaitu berat badan sulit naik. Saat hamil berat badan ibu naik tetapi setelah melahirkan berat badan ibu kembali seperti semula.

Saat digali terkait penyebab dari gizi buruk anak ibu mengatakan anak sudah diberikan obat cacing, saat kehamilan tidak mengalami anemia dan tidak pernah ada keluhan. Anak juga tidak diare atau tidak ada masalah pencernaan. Berat badan anak yaitu 10,5 kg. Tinggi badan anak 90 cm. Lingkar kepala pasien 47 cm. Lingkar lengan atas pasien 13,5 cm. Berikut adalah hasil dari pemantauan gizi anak dari berat badan, tinggi badan dan umur berdasarkan WHO yang diacu dari IDAI [1]:

  • Berdasarkan Indeks Antropometri menurut WHO menurut BB/U, pasien ini memiliki nilai indeks < – 3 SD yang berarti sudah masuk dalam kategori gizi buruk.
  • Berdasarkan Indeks Antropometri menurut WHO menurut TB/U, pasien ini memiliki nilai indeks < – 3 SD yang berarti sudah masuk dalam kategori sangat pendek.
  • Berdasarkan Indeks Antropometri menurut WHO menurut BB/TB, pasien ini memiliki nilai indeks diantara -2 sampai – 3 SD yang berarti sudah masuk dalam kategori kurus.
  • Berdasarkan ukuran lingkar kepala yaitu 47 cm, memiliki nilai indeks < -2 SD sehingga termasuk kategori mikrosefali.
  • Berdasarkan ukuran lingkar lengan atas yaitu 13,5 cm, memiliki nilai indeks < -2 SD sehingga termasuk kategori kekurangan energy protein.

tolong anak gizi buruk

Setelah diteliti lebih lanjut ternyata anak kurang perhatian khusus dari orang tua. Anak sehari-hari sering bersama ibunya tetapi ibunya pun mengurusi pasien dengan disambil mengurusi pekerjaan rumah tangga. Kondisi ini dapat membuat anak tidak mempunyai pola makan yang baik. Berdasarkan penelitian yang ditulis oleh Wiko Saputra, salah satu penyebab gizi buruk adalah kurangnya perhatian orang tua pada anak [2]. Hal ini terkait dengan pola asuh ibu yang kurang memberikan perhatian terutama saat memberi makan anak.

Penatalaksaan dari kasus ini adalah edukasi terkait penting pola asuh ibu serta pola makan dan jenis makanan anak. Terlalu banyak makanan cemilan gorengan dan manis akan menyebabkan anak mudah kenyang sehingga anak tidak mau makan saat waktunya makan besar (nasi). Dilakukan juga edukasi terkait pentingnya pengejaran masa tumbuh kembang anak agar tidak mempengaruhi perkembangan otak anak saat beranjak dewasa dan mempengaruhi kognitif anak.

Disarankan untuk penggalian lebih lanjut terkait pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan kultur sputum, dan penggalian lebih lanjut terkait ekonomi keluarga dan masalah dalam keluarga sehingga dapat berpengaruh pada pola asuh pada anak, riwayat kehamilan karena berat badan anak rendah saat lahir.

Kegiatan mengunjungi pasien seperti ini bermanfaat karena pasien terutama keluarga pasien merasa diperhatikan sehingga termotivasi untuk mau mendukung perbaikan gizi anak. Kegiatan ini juga bermanfaat untuk penulis agar semakin belajar terkait gizi buruk dan cara penanganannya.

 

Daftar Pustaka :

1       Kurva Pertumbuhan WHO. Diambil dari : http://www.idai.or.id/professional-resources/growth-chart/kurva-pertumbuhan-who [27 Mei 2017 pukul 23:23 WIB]

2       Wiko Saputra, Rahmah Hida Nurrizka (2012). Makara Kesehatan : Faktor Demografi dan Risiko Gizi Buruk dan Gizi Kurang. Vol.16 No. 2 : 95-101. Tanjung Biru Research Institute: Jakarta Pusat. Diambil dari : http://journal.ui.ac.id/index.php/health/article/viewFile/1636/1366

Dikirim oleh Lisa Devianti

 

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *