Pertusis (ICD X: A37.8)

Disusun oleh Yoseph Samodra

 

Definisi pertusis

Pertusis adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut yang sangat menular ditandai dengan suatu sindrom yang berupa batuk yang bersifat spasmodik dan paroksismal disertai nada yang meninggi karena penderita berupaya keras untuk menarik nafas sehingga pada akhir batuk sering disertai bunyi yang khas (whoop).

Etiologi pertusis

Bordetella pertussis

(c) American Academy of Pediatrics. Bronchiolar plugging in neonate with pertussis pneumonia

Keterangan gambar: Sumbatan bronkiolar pada neonatus yang menderita pneumonia pertusis. (Sumber gambar: http://www.vaccineinformation.org/photos/pertaap001.jpg)

 

Epidemiologi pertusis

Diperkirakan di seluruh dunia terdapat 16 juta kasus pertusis dan 195.000 kematian akibat pertusis per tahunnya.

 

Keluhan pertusis

Perjalanan klinis pertusis yang dibagi menjadi 3 stadium yaitu:

a. Stadium Kataralis (stadium prodormal)

Lamanya 1-2 minggu. Gejalanya berupa: infeksi saluran pernafasan atas ringan, panas ringan, malaise, batuk, lacrimasi, tidak nafsu makan dan kongesti nasalis.

b. Stadium Akut paroksismal (stadium spasmodik)

Lamanya 2-4 minggu atau lebih. Gejalanya berupa: batuk sering 5-10 kali, selama batuk pada anak tidak dapat bernafas dan pada akhir serangan batuk pasien menarik nafas dengan cepat dan dalam sehingga terdengar yang berbunyi melengking (whoop), dan diakhiri dengan muntah.

c. Stadium konvalesen

Ditandai dengan berhentinya whoop dan muntah. Batuk biasanya menetap untuk beberapa waktu dan akan menghilang sekitar 2-3 minggu.

 

Faktor risiko pertusis

a. Siapa saja dapat terkena pertusis.

b. Orang yang tinggal di rumah yang sama dengan penderita pertusis.

c. Imunisasi amat mengurangi risiko terinfeksi, tetapi infeksi kembali dapat terjadi.

 

Pemeriksaan fisik pertusis

Tanda patognomonis pertusis

  1. Batuk berat yang berlangsung lama
  2. Batuk disertai bunyi ‘whoop’
  3. Muntah
  4. Sianosis

 

Pemeriksaan penunjang pertusis

  1. Pemeriksaan apus darah tepi, ditemukan leukosistosis dan limfositosis relatif
  2. Kultur

 

Diagnosis klinis pertusis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.

Kriteria:

  1. Terdeteksinya Bordatella pertusis dari spesimen nasofaring
  2. Kultur swab nasofaring ditemukan Bordatella pertusis

 

Komplikasi pertusis

  1. Pneumonia
  2. Encephalitis
  3. Malnutrisi

 

Penatalaksanaan pertusis

  1. Pemberian makanan yang mudah ditelan, bila pemberian muntah sebaiknya berikan cairan elektrolit secara parenteral.
  2. Pengelolaan patensi jalan nafas.
  3. Oksigen
  4. Pemberian farmakoterapi: Antibiotik: Eritromisin 30–50 mg/kgBB 4x sehari; Antitusif: Kodein 0,5 mg/tahun/kali; Salbutamol dengan dosis 0,3-0,5 mg perkg BB/hari 3x sehari.

Sarana dan prasarana yang diperlukan:
a. Tabung dan selang/sungkup oksigen
b. Cairan elektrolit parenteral
c. Obat-obatan: Eritromisin, Kodein dan Salbutamol

 

Konseling dan edukasi pertusis

  1. Edukasi: Edukasi diberikan kepada individu dan keluarga mengenai pencegahan rekurensi.
  2. Pencegahan: Imunisasi dasar lengkap harus diberikan pada anak kurang dari 1 tahun.

 

Prognosis pertusis

Prognosis umumnya bonam, namun dapat terjadi berulang (dubia ad bonam).
Sanationam: Dubia ad bonam.

 

Sumber:

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer.

https://www.cdc.gov/pertussis/index.html Page last reviewed: August 31, 2015. Page last updated: January 26, 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *