Profil Kognitif Berhubungan dengan Aspek Fungsional dan Antropometrik pada Lanjut Usia

Pendahuluan

Dalam beberapa dekade terakhir, terdapat perilaku demografik baru pada lanjut usia, yaitu adanya peningkatan progresif prevalensi populasi lanjut usia akibat perbaikan usia harapan hidup dan peningkatan proporsi lanjut usia pada populasi dunia. Hal ini membuat pencarian strategi untuk memperpanjang usia harapan hidup yang bebas dari gangguan kognitif dan fungsional menjadi hal yang relevan. Populasi lanjut usia adalah sebuah kelompok yang ditandai oleh heterogenitas, sehingga kita bisa menemukan dalam satu kelompok yang sama lanjut usia yang memiliki kapasitas fungsional yang masih terjaga dan yang gangguan memorinya sudah dalam tahap lanjut.

Penuaan adalah proses berkelanjutan di mana terdapat penurunan progresif pada proses fisiologis. Di antara perubahan fisiologis yang paling kentara selama penuaan, terdapat penurunan tinggi badan sebanyak sekitar 1 cm tiap dekade serta perubahan struktural dan fungsional di sistem saraf, akibat penurunan jumlah neuron. Hal yang lain yang lazim dijumpai adalah peningkatan kekakuan arteri, peningkatan tekanan darah, penurunan cardiac output saat istirahat maupun saat olahraga, dan penurunan densitas mineral tulang.

Secara spesifik, terdapat ventrikulomegali dan penurunan mantel kortikal, biasanya disertai oleh gangguan kognitif progresif. Dengan atau tanpa penyakit-penyakit degeneratif, disfungsi kognitif dan demensia dapat dijumpai. Demensia adalah penurunan progresif atau hilangnya kemampuan kognitif, parsial atau komplit, permanen atau sementara, yang cukup untuk menyebabkan hilangnya otonomi dan penurunan fungsional.

Menurut Pedrosa dan Holland, hilangnya independensi dan rendahnya kebugaran kardiorespirasi berhubungan dengan risiko morbiditas dan mortalitas dari penyakit kronis, di sisi lain performa aktivitas harian dan pemeliharaan independensi berkaitan dengan peningkatan kesehatan secara umum. Rendahnya kekuatan otot dan obesitas berhubungan dengan penurunan fungsional dan gangguan kognitif.

Kapasitas fungsional dan mempertahankan otonomi berhubungan dengan insidensi penyakit degeneratif kronis yang lebih rendah. Sehingga terdapat kebutuhan konstan untuk penilaian dan perawatan kebugaran fisik, karena berkaitan dengan kesehatan secara umum pada lanjut usia terutama dalam hubungannya dengan penyakit kardiovaskular, respon kognitif dan rawat inap di rumah sakit. Dari hal-hal ini, tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi profil kognitif lanjut usia dan hubungannya dengan aspek antropometrik dan fungsional.

 

Metode

Subjek

Sampel terdiri atas 84 lanjut usia (15 pria dan 69 wanita) berusia 61-90 tahun yang tinggal di Distrik Federal, dipilih secara convenience. Kriteria inklusinya: berusia lebih dari 60 tahun, tinggal di rumah sendiri, menandatangani informed consent, melengkapi seluruh data, tidak menderita neuropati atau masalah muskuloskeletal saat tes fisik.

 

Rancangan penelitian

Setelah kontak dengan lanjut usia di rumah mereka, kami mengumpulkan data terkait pengukuran antropometrik, MMSE, dan tes fungsional menggunakan The adapted Functional Fitness Test.

Tes Romberg: Peneliti meminta tiap subjek untuk berdiri tegak dengan dua kaki, tanpa alas kaki, dengan mata terbuka selama 30 detik lalu dengan mata tertutup selama 30 detik. Tes dinilai positif jika subjek gagal mencapai minimal 10 detik dengan mata tertutup tanpa tubuhnya bergoyang-goyang.

Tes handgrip: Setelah pengenalan alat, subjek diminta duduk, dengan bahu dalam posisi netral. Subjek diminta untuk melakukan kontraksi isometrik maksimal sesuai perintah pemeriksa.

Stand up and walk test (TSW) (Timed up and go – TUG): Tes ini diukur dengan stopwatch dan direkam dalam detik waktu yang diperlukan untuk berdiri dari kursi, berjalan sejauh 3 meter, memutari rintangan dan duduk kembali.

Chair get up test: Untuk tes ini kami menggunakan kursi dengan sandaran tradisional, tanpa sandaran samping, tinggi 45 cm, serta sebuah stopwatch. Kursi dipasang erat pada dinding untuk mencegah bergeser selama tes. Pengenalan prosedur dilakukan untuk memastikan subjek duduk di sebagian besar kursi dengan posisi telapak kaki rata di lantai.

Mini Mental State Examination (MMSE): MMSE terdiri atas pertanyaan tipikal terdiri atas 7 kategori, masing-masing didesain untuk menilai fungsi kognitif spesifik, yaitu: orientasi waktu, lokasi, pengenalan kata, atensi dan perhitungan, memori, bahasa, dan kapasitas konstruktif visual.

Massa tubuh dan tinggi badan: Untuk mengukur massa tubuh digunakan timbangan digital Britania dengan ketelitian 0.1 kg. Subjek diukur dengan pakaian minimum, berdiri tegak, tidak bergerak hingga angka di timbangan stabil. Pita ukur yang ditempel ke dinding digunakan untuk mengukur tinggi badan. Kepala diposisikan menurut Frnakfurt plan di mana garis imajiner melewati titik terendah dari tepi orbital inferior dan titik tertinggi dari tepi atas lubang telinga kanan.

Lingkar pinggang dan panggul: Pengukuran pinggang menggunakan pita 150 cm dengan ketelitian 0,1 cm. Diukur melewati pusar, tanpa pakaian. Pengukuran panggul dilakukan pada daerah paling lebar di panggul, dengan kaki lurus dan telapak kaki rapat.

Lingkar lengan atas: Pengukuran dilakukan dengan posisi fleksi terhadap dada dalam sudut 90 derajat, pada lokasi pertengahan akromion dan olekranon.

Lingkar paha: Pita ukur dilingkarkan di pertengahan linea inguinal dan batas atas patella. Kedua telapak kaki sedikit terbuka dan berat tubuh dibagi merata.

Lingkar leher: Pengukuran dilakukan saat subjek berdiri dengan punggung lurus dan kepala dapam posisi Frankfurt. Pita dilingkarkan di atas prominensia laring (atau jakun pada laki-laki).

Analisis statistik

Awalnya normalitas data diperiksa dengan tes Shapiro-Wilk atau tes Kolmogorov-Smirnov. Statistik deskriptif dilakukan untuk menilai prevalensi hipertensi, diabetes, labirinitis, osteoporosis, aktivitas fisik dan evaluasi nutrisional antar grup yang berbeda. Kami menggunakan tes chi-square untuk menganalisis rasio frekuensi antar grup. Independent T-test digunakan digunakan untuk menganalisis perbedaan antropometrik, perbedaan hemodinamik, kondisi mental dan performa tes fungsional dalam hubungannya dengan tingkat aktivitas fisik, klasifikasi nutrisional, dan jenis kelamin.

Untuk menganalisa cutoff points untuk indikator antropometrik dan performa tes fungsional digunakan teknik kurva ROC (receiver operating characteristic). Model regresi bivariat dan regresi logistik multivariat digunakan untuk menghitung Odds Ratio (OR). Analisis statistik dilakukan dengan SPSS 18.0 (SPSS Inc., Chicago, Illinois, USA) for Windows, dan Stata software version 9.1 (College Station, TX:StataCorp LP).

 

Hasil

Terdapat perbedaan bermakna pada variabel: berat badan, tinggi badan, rasio lingkar pinggang dan pinggul, lingkar leher, dan lingkar pinggang, dimana pria memiliki angka yang lebih tinggi dari wanita.

Awalnya jenis kelamin diuji sebagai modifier efek; namun tidak menunjukkan perubahan kapasitas, sehingga analisis dilakukan pada keseluruhan sampel tanpa stratifikasi berdasarkan jenis kelamin. Dari variabel yang dianalisis, hanya rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan dan ekuilibrium yang ditemukan memiliki efek risiko atau protektif. Lansia dengan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan lebih dari 0,67 memiliki risiko 5,63 kali menderita demensia, sedangkan lansia yang memiliki keseimbangan 15% lebih jarang menderita demensia.

 

Pembahasan

Jumlah lemak abdominal paling tinggi diverifikasi oleh lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan. Matsudo dkk menyatakan bahwa penimbunan lemak di daerah sentral yang tergambar melalui lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan memiliki hubungan dengan tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah dan gaya hidup yang kurang aktif.

 

Diringkas dan diterjemahkan oleh dokteryoseph

Ayo #banyakbaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *