Terpapar Tak Perlu Mahal

Kisah kunjungan anak-anak usia prasekolah ke markas PBB di New York menjadi pembuka posting Pak Andi tentang pentingnya keterpaparan terhadap kesuksesan seseorang. Betapa anak-anak itu tampak bertingkah biasa-biasa saja di gedung yang menurut saya luar biasa. Pak Andi lebih dulu berkesempatan ke sana, saya sendiri belum pernah kesana. Semoga kelak saya pun bisa berkunjung di sana, entah kapan.

ibu anak

Meskipun masih kecil, anak-anak tersebut memang sudah terbiasa dengan lingkungan gedung PBB karena TK mereka cuma sepelemparan batu dari kantor pusat PBB. Mereka pun sudah sering terpapar dengan keberagaman manusia (warna kulit, bahasa, bahkan jabatan) yang lalu lalang di lingkungan tersebut. Sehingga mungkin Pak Andi yang mengamati mereka malah sama sekali tidak menjadi objek pengamatan anak-anak itu, hehehe..

Ketika mereka dewasa dan mungkin ada yang bekerja di gedung tersebut, mungkin tidak menjadi hal yang luar biasa baginya, karena sejak balita pun dia sudah pernah menelusuri lorong-lorongnya bahkan mungkin pernah menitipkan air pipisnya di salah satu toiletnya. Ketika ada satu dari anak-anak itu yang bekerja di perusahaan multinasional tentu dia akan cukup pede untuk memimpin rapat dengan anak buahnya yang berasal dari belasan negara. Coba bandingkan dengan anak TK di pedalaman hutan tropis Indonesia. Jangankan berkolaborasi lintas negara, bergaul dengan anak mall di Pulau Jawa saja mungkin mereka minder. Namun kalau berurusan dengan lumut dan lumpur, mereka lebih dapat diandalkan.

Langkah awal menuju keberhasilan adalah keterpaparan. Tubuh manusia menjadi contoh ilmiah efek keterpaparan terhadap kesuksesan. Ketika sistem pertahanan tubuh kita terpapar pertama kalinya dengan benda asing, responnya sangatlah umum. Dalam perjuangannya mungkin sel-sel imun kita kalah dalam perjuangan pertamanya melawan kuman. Seiring waktu, dalam kondisi ideal, sistem imun kita akan makin jago mengenali dan menumpas pengganggu tubuh kita. Makanya pemerintah memaparkan rakyatnya secara terkendali dengan kuman-kuman yang berpotensi membahayakan kehidupan kita dalam kondisi tidak terkendali. Ya, pemaparan ini dikenal dengan istilah imunisasi.

Baca artikel lainnya:

[catlist name=”pendidikan”]

Bagaimana seseorang bisa menang Indonesian Idol jika keterpaparannya terhadap musik sangat minim? Tidak mungkin seorang Idola Indonesia hanya hafal 2-3 lagu. Bagaimana seorang yang mengaku Mancing Mania bisa menjuarai lomba memancing jika ternyata keterpaparannya hanya sebatas nonton acara memancing di televisi dan main game memancing di PS.

Bagaimana seseorang bisa mendapatkan beasiswa penuh di universitas bergengsi di luar negeri jika baru membaca situs resminya yang berbahasa Inggris saja sudah tidak nyaman dan gagal paham? Bagaimana seseorang yang mendambakan suami bule bisa mewujudkan mimpinya jika bahasa yang dikenalnya hanya bahasa daerahnya?

Salah satu bantuan untuk meraih beasiswa bisa dilihat di situs berikut ini: Tembus Beasiswa

Di jaman internet sudah di genggaman tangan seperti saat ini, terpapar dengan ‘orang asing’ bukanlah hal sulit. Banyak kawan baru yang menanti di media sosial. Latihlah kemampuan apapun dengan bantuan internet yang semakin murah. Paparkan sesering mungkin dengan hal-hal baru, belajarlah setiap waktu.

Tak harus bertatap muka di Pantai Kuta atau Candi Borobudur dengan mereka yang berwarna kulit dan bahasa yang berbeda dengan kita. Forum-forum diskusi aneka topik bertebaran di seantero jagat maya. Bijaklah memilih karena di antara segala kemudahan (dan keterjangkauan) ini juga terselip bahaya. Terpapar tak perlu mahal, hanya perlu niat dan cermat.

Salam sehat dari saya.

Yoseph L. Samodra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *