Konsumsi Unhealthy Food Sebagai Faktor Risiko Obesitas Balita di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta

Prevalensi kegemukan dan obesitas meningkat dari tahun ke tahun baik di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Data survei National Health Examination and Nutrition Examination Survey tahun 2007-2008 menunjukkan bahwa kejadian obesitas telah meningkat. Berdasarkan indikator berat badan dan tinggi badan untuk anak usia 2-19 tahun diperkirakan 16,9% mengalami obesitas, sedangkan untuk anak 2-5 tahun angka prevalensi obesitas sebanyak 10% pada tahun 2008. World Health Organization menyebutkan hampir 40 juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami kegemukan pada tahun 2010. Hasil RISKESDAS tahun 2010 menunjukkan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak sekolah (6-12 tahun) sebesar 9,2%. Sebelas propinsi, seperti D.I. Aceh (11,6%), Sumatera Utara (10,5%), Sumatera Selatan (11,4%), Riau (10,9%), Lampung (11,6%), Kepulauan Riau (9,7%), DKI Jakarta (12,8%), Jawa Tengah (10,9%), Jawa Timur (12,4%), Sulawesi Tenggara (14,7%), Papua Barat (14,4%) berada di atas prevalensi nasional. Hasil penelitian di beberapa kota menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas. Hasil penelitian di Yogyakarta, menunjukkan adanya peningkatan prevalensi hampir dua kali lipat dalam waktu lima tahun. Prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak sekolah di Yogyakarta pada tahun 1999 sebesar 8,0%, meningkat menjadi 12,3% pada tahun 2004.

Kegemukan merupakan suatu keadaan akibat terjadinya ketidak seimbangan kalori dalam tubuh. Salah satu penyebab terjadinya obesitas sendiri yaitu karena konsumsi unhealthy food yang berlebihan. Makanan jenis ini mempunyai banyak kandungan garam, lemak, dan gula di dalamnya. Oleh karena itu, makanan ini termasuk makanan yang dapat menyebabkan terjadinya obesitas Sebagian besar anak-anak menyukai makanan yang cepat saji atau fast food. Selain itu, kesukaan anak-anak pada makanan ringan dan kemasan atau minuman manis menjadi hal yang patut untuk diperhatikan. Pada kasus ini dijelaskan pada penelitian Yenni dkk (2015) mengenai konsumsi unhealthy food sebagai faktor risiko obesitas pada balita di Puskesmas Jetis, Kota Yogyakarta Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsumsi unhealthy food sebagai faktor risiko obesitas pada balita di Puskesmas Jetis, Yogyakarta.

Pada penelitian Yenni dkk (2015), populasinya adalah seluruh balita di Puskesmas Jetis Yogyakarta dengan subjek penelitian adalah balita berusia 24-59 bulan dan memenuhi kriteria inklusi. Besar sampel dihitung dan didapatkan jumlah sampel sebesar 51 balita obesitas. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah case control, dimana kasus terdiri dari 51 balita obesitas dan kontrol terdiri dari 51 balita tidak obesitas. Penentuan kelompok kasus adalah balita obesitas dengan indikator BB/TB z-score ≥3SD, sedangkan kelompok kontrol yaitu balita tidak obesitas dengan Z score <3SD. Kedua kelompok adalah balita berusia 24-59 bulan. Kasus dipilih secara random yang sebelumnya telah dilakukan survei di Puskesmas Jetis, Yogyakarta.

Jenis unhealthy food yang dimaksud dalam penelitian adalah makanan instan (>200 mg natrium/porsi), susu full cream (lemak >3g/100g), western fast food (lemak jenuh >6g/porsi, natrium >900 mg/porsi), dan minuman manis (>20 g gula/100 g). Data berat badan diperoleh berdasarkan data sekunder dari hasil PSG (Pemantauan Status Gizi) Puskesmas Jetis, Yogyakarta. Data primer diperoleh dari wawancara mengenai karakteristik subjek penelitian seperti data pendidikan dan pekerjaan orang tua dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Data frekuensi konsumsi unhealthy food diperoleh menggunakan kuesioner baku food frequency-questionnaire (FFQ) dengan menanyakan konsumsi makanan satu bulan terakhir. Setelah semua data diperoleh kemudian data dimasukkan dalam SPSS dan dianalisis secara bivariat dengan menggunakan uji chi-square

Setelah dilakukannya penelitian oleh Yenni dkk, didapatkan hasil yang cukup menarik. Berdasarkan karakteristik subjek penelitian diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara balita obesitas dengan balita tidak obesitas (p>0,05). Karakteristik yang dinilai adalah berdasarkan jenis kelamin, kelompok usia, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendidikan ayah, dan pekerjaan ayah. Berdasarkan jenis konsumsi unheaathy food per minggu oleh balita diantaranya seperti makanan instan, susu full cream, western fast food, dan minuman manis. Frekuensi konsumsi susu lebih besar pada anak obesitas dibandingkan pada balita yang tidak obesitas. Begitu pula dengan konsumsi western fast food juga lebih besar dikonsumsi oleh balita obesitas dibandingkan dengan balita tidak obesitas. Balita yang mengonsumsi unhealthy food >32x/minggu akan 4,26 kali lebih berpotensi menderita obesitas dibandingkan balita yang mengonsumsi unhealthy food <32x/minggu.

Dari kesimpulan pada penelitian yang dilakukan Yenii dkk didapatkan kesimpulan bahwa ada hubungan antara konsumsi unhealthy food sebagai faktor risiko obesitas pada balita (p=0,001, OR=4,26). Balita mengonsumsi unhealthy food ≥ 32x/minggu cenderung menyebabkan obesitas 4,26 kali dibandingkan dengan balita yang mengonsumsi unhealthy food kurang dari rata-rata. Jenis-jenis unhealthy food yang merupakan faktor risiko diantaranya susu full cream, makanan western fast food, dan minuman manis. Makanan tersebut merupakan makanan yang diduga menyebabkan terjadinya obesitas pada balita.

fastfood menyebabkan obesitas

Saran yang diberikan oleh peneliti lebih untuk edukasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada orang tua. Edukasi yang diberikan adalah memberikan pengetahuan kepada ibu balita tentang batasan konsumsi unhealthy food pada balita, seperti: membatasi konsumsi susu ≤2x/hari dan minuman manis supaya dikonsumsi setiap hari serta makanan western fast food <5x/minggu. Tetapi pada saran penelitian akan lebih baik jika selain konsumsi susu <2x perhari ditambah dengan mengkonsumsi air putih. Berdasarkan penelitian Yan Sartika (2013) mengukapkan bahwa konsumsi fast food dapat meningkatkan kejadian obesitas karena anak yang mengkonsumsi fast food mengkonsumsi energi rata-rata 187 kkal per hari lebih banyak dibandingkan yang tidak mengkonsumsi fast food. Pada saran penelitian Yenni akan lebih baik jika tidak menkonsumsi makanan western fast food pada balita.

 

Sumber:

Setyaningsing, Yenni Eka dkk. 2015. Konsumsi Unhealthy Food Sebagai Faktor Risiko Obesitas Pada Balita di Puskesmas Jetis, Kota Yogyakarta. Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia: Yogyakarta

Riskesdas. 2012. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Kegemukan dan Obesitas Pada Anak Sekolah. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta

Sartika Yan. 2013. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Obesitas Pada Anak Sekolah Dasar Di Wilayah Kerja Puskesmas Garuda Pekanbaru Tahun 2013. Jurnal Kebidanan Stikes Tuanku Tambusai Riau: Riau

 

Dikirim oleh Bernhard Errysa Satria Pattriskak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *