Vertigo Bukan Pusing Biasa

Vertigo berasal dari istilah latin, yaitu vertere yang berarti berputar, dan igo yang berarti kondisi. Vertigo merupakan subtipe dari dizziness yang secara definitif merupakan ilusi gerakan, dan yang paling sering adalah perasaan atau sensasi tubuh yang berputar terhadap lingkungan atau sebaliknya, lingkungan sekitar kita rasakan berputar.

Vertigo merupakan salah satu gangguan yang paling sering dialami dan menyusahkan sebagian besar manusia. Umumnya keluhan vertigo menyerang sebentar saja; hari ini terjadi, besok hilang. Namun, ada juga vertigo yang kambuh lagi setelah beberapa bulan atau beberapa tahun. Pada umumnya vertigo yang terjadi disebabkan oleh stress, mata lelah, dan makanan/minuman tertentu. Walaupun vertigo bukan merupakan salah satu penyakit yang banyak dikenal orang dan dengan angka kejadian yang tinggi, namun seseorang dengan vertigo dapat berbahaya karena berisiko jatuh saat beraktivitas akibat gangguan keseimbangan hingga kehilangan kesadaran/pingsan.

-= Dapatkan potongan harga spesial untuk aneka barang, klik iklan berikut ini =-

-=-

Vertigo terjadi pada sekitar 32% kasus, dan sampai dengan 56,4% pada populasi orangtua. Menurut data di Amerika keluhan pusing merupakan alasan 5,6 juta orang berkunjung ke klinik. Menurut beberapa penelitian menyatakan bahwa 1/3 orang mengeluhkan pusing mengalami vertigo. Pada tahun 2009 di Indonesia angka kejadian vertigo sangat tinggi sekitar 50% dari orang tua yang berumur 75 tahun, pada tahun 2010, 50% dari usia 40-50 tahun dan juga merupakan keluhan nomor tiga paling sering dikemukakan oleh penderita yang datang ke praktek umum. Pada umumnya vertigo ditemukan sebesar 4-7 persen dari keseluruhan populasi dan hanya 15 persen yang diperiksakan ke dokter.

Vertigo masih banyak dialami oleh kebanyakan orang. Sampai saat ini masih banyak orang yang sering mengeluhkan pusing berputar. Di Yogyakarta sendiri, khususnya di daerah Kecamatan Sanden, Bantul, vertigo masih merupakan penyakit yang masih cukup banyak dialami. Menurut data di Puskesmas Sanden, pada tahun 2016 penemuan kasus vertigo sebanyak 458 kasus di daerah Sanden ini menunjukkan bahwa prevalensi vertigo cukup banyak di daerah Sanden dan menunjukkan masyarakat di daerah Sanden masih kurang kesadarannya untuk aktif memeriksakan diri jika memiliki gejala pusing berputar. Pengobatan juga mereka jarang melakukannya di Puskesmas Sanden dikarenakan mereka merasa bahwa vertigo tidak perlu berobat melainkan akan menghilang dengan sendirinya.

Kebanyakan populasi yang memiliki resiko untuk terkena penyakit ini adalah perempuan. Data dari Puskesmas Sanden menunjukkan bahwa perbedaan perempuan dan laki-laki sebesar 8% lebih banyak perempuan yang terkena. Kebanyakan juga penderita vertigo berkisar di antara usia 18-55 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya vertigo itu sendiri. Faktor pencetus dari vertigo seperti adanya gangguan pada telinga, gangguan pada sistem saraf pusat (seperti multiple sclerosis, tumor, stroke), migrain, peradangan atau infeksi, gangguan penglihatan, penyakit meniere, mabuk (kendaraan darat, laut, udara), posisi tidur, maupun faktor yang lain. Selain faktor diatas, banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi terjadinya vertigo, seperti lingkungan di sekitar kita juga bisa mempengaruhi terjadinya vertigo. Gangguan pada psikis atau adanya beban pikiran juga bisa mempengaruhi terjadinya vertigo.

Vertigo ini sendiri masih termasuk 23 penyakit terbanyak yang terdapat di Sanden dan pada tahun 2016, vertigo menduduki peringkat ke 16 penyakit besar. Masalah penyakit vertigo ini kebanyakan karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ketika memiliki gejala yang mengarah ke vertigo. Penderita yang mengalami pusing berputar yang mau memeriksakan diri dan yang melakukan pengobatan masih jauh dari target yang diharapkan. Padahal dari pihak puskesmas sendiri sudah terdapat bagian yang melakukan upaya promosi dan preventif mengenai vertigo. Pengobatan vertigo sendiri sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang lama, namun terkadang waktu untuk berkonsultasi antara petugas kesehatan dan penderita belum mencukupi. Para tokoh masyarakat seperti kader-kader pada posyandu sebenarnya bisa diajak bekerja sama dalam mensosialisasikan mengenai vertigo, namun terkadang hal ini mengalami kendala dimana waktu untuk sosialisasi atau hanya sekedar untuk konseling dan edukasi yang tidak ada. Hal ini mungkin bisa diatasi dengan menjalin kerjasama antara puskesmas dengan radio yang ada di Kecamatan Sanden, agar dapat memberikan sosialisasi vertigo lebih menarik dengan materi yang dikemas lebih sederhana dan adanya waktu untuk berkonsultasi mengenai penyakit ini lebih lama. Selain itu juga, dari pihak puskesmas juga bisa meningkatkan kualitas tenaga kesehatan di puskesmas, sehingga dapat melakukan pembinaan dan penyuluhan terkait vertigo dengan lebih baik.

Kurangnya pengetahuan dan kurangnya kesadaran diri untuk memeriksakan terkait keluhan pusing berputar ini juga berpengaruh pada peran keluarga dari penderita. Jika keluarga tidak mendukung atau hanya cuek dengan penyakit yang diderita keluarganya, hal ini sangat berpengaruh terhadap kesembuhan penderita itu sendiri. Jika penderita merasa penyakit ini sebagai penyakit yang tidak perlu diobati, maka angka penderita vertigo tetap tinggi. Hal ini bisa diatasi dengan bantuan kader yang ada dan juga keluarga dari penderita itu sendiri untuk mendorong agar segera memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan terdekat karena vertigo bukan hal yang bisa dianggap sepele. Para kader yang ada juga bisa memantau ke masyarakat dengan melakukan home visit agar bisa memantau jika ada masyarakat yang memiliki gejala vertigo dan aktif mengajak masyarakat untuk memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan.

Kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan selama ini dari pihak puskesmas perlu ditindaklanjuti. Seperti hal nya dengan kunjungan ke rumah-rumah masyarakat di sekitar Puskesmas Sanden. Kunjungan rumah dilakukan untuk memantau pasien dan kondisi lingkungan sekitar pasien, serta memberi edukasi kepada pasien dan keluarganya mengenai penyakit vertigo. Dalam kunjungan juga disampaikan gejala-gejala vertigo serta disampaikan juga kepada pihak keluarga untuk menjaga perilaku hidup bersih dan sehat dan mengenali serta dapat membantu secara aktif dalam deteksi dini penyakit vertigo. Dalam kunjungan juga diajarkan tatalaksana terapi maupun non terapi yang bisa digunakan oleh pasien untuk membantu mengurangi gejala yang muncul. Dari hasil kunjungan rumah yang telah dilakukan, sosialisasi menjadi lebih efektif karena keluarga menjadi lebih paham tentang vertigo dan dapat berdiskusi lebih banyak dengan petugas kesehatan baik tentang cara pencegahan. Petugas kesehatan menjadi lebih tahu tentang perilaku pasien dan keluarga pasien di rumah terutama perilaku kesehatan dalam mencegah kekambuhan penyakit.

ilustrasi vertigo pusing berputar

Pada saat posyandu lansia pun bisa dijadikan wadah untuk mendeteksi dini penderita dengan gejala pusing berputar. Pada saat ditemukan penderita dengan gejala pusing berputar dapat dianjurkan untuk memeriksakan diri ke puskesmas agar dapat penanganan dari pihak puskesmas. Dengan adanya waktu berkomunikasi yang cukup dengan masyarakat juga dapat mengetahui sejauh mana upaya pasien untuk sadar memeriksakan diri. Pada saat posyandu juga bisa diberikan ruang untuk konsultasi atau meja edukasi dimana pada saat posyandu tidak hanya berfokus pada pengobatan dengan obat-obat kimia saja tetapi juga bisa melakukan terapi non farmakologi seperti memberikan edukasi mengenai penyakit vertigo.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari kasus vertigo ini. Dari hal ini kita mendapatkan pelajaran bahwa untuk menghadapi suatu penyakit tidak hanya mengobati pasien saja tetapi perlu memperhatikan faktor-faktor di sekitarnya secara holistik seperti keluarga, lingkungan, faktor ekonomi. Selain itu perlunya usaha dari tokoh masyarakat beserta tenaga kesehatan yang ada untuk menghapus pemikiran masyarakat terkait penyakit vertigo merupakan penyakit yang biasa dan tidak perlu diobati, begitu juga dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk aktif dalam melakukan pencegahan, pemeriksaan kesehatan serta pengobatan terhadap penyakit khususnya vertigo. Hal ini bisa dilakukan dengan bekerjasama dengan media massa serta masyarakat sekitar untuk ikut serta dalam promosi kesehatan dan membantu dalam menghadapi masalah vertigo. Selain hal terserbut, evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah ada seperti siaran radio, bekerja sama dengan tokoh mayarakat setempat seperti kader-kader pada posyandu lansia, serta penambahan sarana sosialisasi melalui home visit, sangatlah penting untuk diperhatikan agar hal ini dapat terus berjalan dan penanganan masalah vertigo ini dapat terselesaikan dengan baik.

 

Dikirim oleh Yosephine Muliana

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *